Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga komoditas energi diperkirakan masih berpeluang menguat hingga akhir 2026, terutama minyak mentah dan batubara.
Melansir Trading Economics pada Kamis (22/10) pukul 17.50 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) bertengger di level US$ 99,7 per barel naik 8% sebulan terakhir. Pun minyak Brent juga melonjak 8,88% dalam sebulan menjadi US$ 111,7 per barel.
Kemudian harga batubara berada di level US$ 150,5 per ton atau naik 3,5% sebulan. Namun, gas alam saat ini mengalami pelemahan 8,6% sebulan terakhir menjadi US$ 2,7 per MMBtu.
Baca Juga: OJK Catat 5 Insiden Aset Kripto, Waspadai Penipuan Berkedok Customer Support
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, harga minyak mentah masih berpotensi mendapat dukungan dari eskalasi konflik di Timur Tengah dan risiko kerusakan infrastruktur energi. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Dengan asumsi gangguan pasokan masih berlangsung hingga akhir tahun, Lukman memperkirakan harga minyak mentah WTI berpotensi bergerak di kisaran US$ 90-US$ 105 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah Brent diproyeksikan berada di rentang US$ 100-US$ 115 per barel.
Meski demikian, prospek penguatan minyak tetap dibayangi risiko koreksi. Jika ketegangan geopolitik mereda dan gangguan pasokan berkurang, harga minyak berpotensi terkoreksi setelah mengalami kenaikan.
Selain minyak mentah, batubara juga memiliki prospek yang relatif positif hingga akhir 2026. Lukman memperkirakan harga batu bara Newcastle bergerak di kisaran US$ 130-US$ 160 per ton.
"Untuk batubara, harga masih berpotensi bertahan kuat akibat keterbatasan pasokan dari Indonesia dan meningkatnya peralihan pembangkit listrik dari gas ke batubara di sejumlah negara Asia. Meski demikian, prospek jangka panjang tetap menghadap tantangan dari perlambatan permintaan di China dan India serta transisi energi," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).
Di sisi lain, prospek gas alam cenderung bervariasi di setiap kawasan. Lukman memandang harga gas alam di AS berpotensi relatif terkendali karena produksi dan persediaan yang masih cukup kuat. Harga gas alam AS diperkirakan berada di kisaran US$ 3-US$ 3,50 per MMBtu hingga akhir tahun.
Adapun harga gas alam di Eropa dan Asia cenderung lebih sensitif terhadap gangguan pasokan gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) serta perkembangan geopolitik. Karena itu, koreksi harga gas alam saat ini belum tentu mencerminkan tren pelemahan yang seragam di seluruh pasar.
Di tengah dinamika tersebut, Lukman berpandangan minyak mentah menjadi salah satu komoditas yang menarik dicermati investor, terutama karena tingginya ketidakpastian geopolitik.
Bagi investor domestik, pelemahan rupiah turut menjadi faktor yang perlu diperhitungkan. Pasalnya, harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS dapat meningkatkan nilai aset dalam rupiah ketika dikonversi, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada pergerakan harga komoditas dan nilai tukar.
Untuk strateginya, Lukman menyarankan investor menerapkan strategi investasi secara bertahap, melakukan diversifikasi, serta menghindari penggunaan leverage secara berlebihan, terutama ketika harga komoditas telah naik tajam.
Baca Juga: Penjualan SBR015 Lebih Baik dari Seri SBR014, Bagaimana Prospek ST017?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














