Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak turun ke level terendah dalam dua bulan pada Rabu (26/2/2025) setelah lonjakan tak terduga dalam persediaan bahan bakar di Amerika Serikat mengindikasikan melemahnya permintaan.
Selain itu, potensi kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina terus membebani Harga minyak.
Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent melemah 49 sen atau 0,67% menjadi US$ 72,53 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun 31 sen atau 0,45% menjadi US$ 68,62 per barel.
Kedua acuan tersebut mencatatkan posisi terendah sejak 10 Desember.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok, Lemahnya Permintaan China Mengimbangi Gangguan Pasokan di AS
Badan Informasi Energi AS melaporkan bahwa persediaan bensin dan sulingan mengalami kenaikan signifikan pekan lalu, meskipun stok minyak mentah justru menurun secara tak terduga akibat meningkatnya aktivitas penyulingan.
"Kami bereaksi spontan hingga mencapai titik terendah. Ini sedikit mengejutkan karena data minyak mentah seharusnya menjadi faktor penahan," ujar Bob Yawger, Direktur Energi Berjangka di Mizuho.
Di sisi lain, prospek tercapainya kesepakatan damai antara Rusia dan Ukraina semakin membaik. Menurut catatan strategi komoditas ING, pasar juga tengah mencermati implikasi dari kesepakatan mineral antara AS dan Ukraina.
Jika tercapai, kesepakatan ini berpotensi membuka jalan bagi pencabutan sanksi terhadap Rusia, sehingga mengurangi ketidakpastian pasokan minyak global.
Baca Juga: Harga Minyak Capai Level Tertinggi Lebih dari 3 Bulan, Sanksi AS Hantam Ekspor Rusia
Risiko penurunan harga minyak juga meningkat akibat kebijakan Presiden AS Donald Trump, termasuk inisiatif untuk meningkatkan ekspor minyak Irak.
Selain itu, kebijakan tarif yang diterapkan Trump berpotensi memicu perang dagang dan memperlambat pertumbuhan ekonomi, kata Ole Hansen, analis Saxo Bank.
Sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengungkapkan bahwa AS dan Ukraina telah menyepakati rancangan persyaratan kesepakatan mineral yang menjadi bagian dari upaya Trump untuk segera mengakhiri perang di Ukraina.
Kekhawatiran terhadap perang dagang yang dapat menekan permintaan minyak turut meredam sentimen mengenai potensi pengetatan pasokan jangka pendek, meskipun AS telah menjatuhkan sanksi baru terhadap Iran, menurut analisis ANZ Bank.
Baca Juga: Harga Minyak Anjlok 2% ke Level Terendah dalam Dua Bulan
Sementara itu, Trump mengumumkan pembatalan konsesi yang sebelumnya diberikan kepada Venezuela oleh mantan Presiden Joe Biden pada 2022. Kebijakan Biden saat itu mengizinkan Chevron untuk memperluas produksi minyak di Venezuela dan mengekspornya ke AS.
Selanjutnya: Prakiraan Cuaca Kalimantan Tengah 27-28 Februari: Berawan, Waspada Hujan Sore Hari
Menarik Dibaca: Inilah Gift Code Ojol The Game 27 Februari 2025 Paling Update dari Codexplore
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News