Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) berpotensi terdampak oleh kebijakan penurunan harga gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG) industri. Emiten ini pun mesti menyiapkan strategi mitigasi untuk meminimalisir dampak kebijakan tersebut.
Sebagai informasi, Kementerian ESDM mengeluarkan kebijakan berupa penurunan harga LNG non-Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi US$ 13 per MMBTU dari kisaran US$ 20-US$ 23 per MMBTU. Hal ini sebagai bentuk komitmen untuk menjaga daya saing industri dalam negeri yang berkelanjutan.
Penurunan tersebut dilakukan melalui optimalisasi struktur biaya dan peningkatan efisiensi di seluruh rantai pasok LNG, termasuk harga gas hulu, biaya pemrosesan LNG, serta komponen infrastruktur dan niaga. Dengan mekanisme ini, penyesuaian harga dilakukan secara proporsional di seluruh rantai pasok, sehingga manfaatnya dapat diteruskan kepada pelanggan industri.
Sebagai bentuk dukungan atas kebijakan pemerintah, PGAS siap mengimplementasikan kebijakan tersebut dengan tetap menjaga profitabilitas bisnis niaga gas dan bisnis perusahaan secara keseluruhan.
Baca Juga: PGN (PGAS) Siap Implementasikan Kebijakan Penurunan Harga LNG
"Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, perusahaan senantiasa melakukan koordinasi secara aktif dengan regulator dan stakeholder terkait serta menyelaraskan kebijakan komersial perusahaan dengan kebijakan pemerintah," ujar Corporate Secretary PGAS Fajriyah Usman dalam keterbukaan informasi, Selasa (30/6/2026).
PGAS juga berkomitmen untuk menjaga pasokan gas bumi tetap andal, aman, dan berkelanjutan guna mendukung daya saing industri, memperkuat ketahanan energi nasional, serta memberikan manfaat bagi perekonomian, masyarakat, dan stakeholder terkait.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, segmen non-HGBT merupakan penyokong profitabilitas PGAS untuk mengompensasi tipisnya margin dari penjualan gas dengan skema HGBT yang dibanderol US$ 6,5--US$ 7 per MMBTU. Ketika harga LNG non-HGBT dipatok maksimal US$ 13 per MMBTU, maka ruang bagi PGAS untuk menikmati spread harga yang tinggi di pasar bebas menjadi lebih terbatas.
Di satu sisi, PGAS harus menjaga keekonomian interkoneksi infrastruktur dan membayar harga gas dari produsen hulu. Di sisi lain, harga jual ke konsumen akhir dibatasi lantaran kebijakan tersebut.
"Jika biaya pengadaan LNG dari hulu termasuk biaya likuifaksi, transportasi, dan regasifikasi mengalami kenaikan, sementara harga jual dipatok, maka margin keuntungan bersih PGAS berpeluang besar mengalami tekanan," ujar dia, Kamis (2/7/2026).
Baca Juga: PGAS Perkuat Pasokan Gas dan LNG, Cek Rekomendasi Sahamnya
Sebenarnya, penurunan harga LNG non-HGBT dapat memicu peningkatan permintaan dari pelanggan industri yang sebelumnya menahan aktivitas produksi karena mahalnya biaya energi. Apabila kenaikan volume penjualan LNG tersebut cukup masif, maka efek penurunan margin akibat harga jual rendah bisa sedikit terkompensasi.
Untuk menyiasati risiko tekanan pada bisnis distribusi gas tersebut, PGAS harus melakukan efisiensi biaya operasional atau operating expense (opex) seperti audit ketat terhadap rantai pasok dan biaya operasional transmisi serta distribusi agar biaya per satuan volume gas dapat ditekan serendah mungkin.
Selain itu, PGAS tidak bisa lagi hanya mengandalkan segmen hilir atau distribusi gas. Kontribusi dari anak usaha di bidang hulu migas, seperti Saka Energi harus dioptimalkan, terutama saat harga minyak mentah dunia atau komoditas energi global sedang kooperatif.
Tak hanya itu, PGAS juga harus mempercepat penyelesaian beberapa proyek strategis seperti pipa transmisi di berbagai daerah. "Peningkatan konektivitas ini akan menurunkan biaya pengangkutan serta menjangkau pasar-pasar baru yang belum terjamah," imbuh dia.
Nafan menyebut saham PGAS masih direkomendasikan wait and see. Namun, dengan rekam jejak sebagai pembagi dividen yang royal, PGAS diyakini tetap punya daya tarik bagi investor berorientasi jangka panjang di tengah volatilitas pasar.
Sedangkan untuk trading, Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana merekomendasikan buy on weakness saham PGAS dengan support di level Rp 1.275 per saham dan resistance di level Rp 1.440 per saham serta target harga di kisaran Rp 1.555--Rp 1.635 per saham.
Baca Juga: Perkuat Konektivitas Infrastruktur Gas Bumi, PGN (PGAS) Operasikan Proyek CISEM II
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














