Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia melemah pada perdagangan Rabu (26/8/2026) di tengah sikap investor yang cenderung menahan transaksi sambil menunggu sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS). Data inflasi dan arah kebijakan The Federal Reserve menjadi perhatian utama pasar untuk menentukan pergerakan emas selanjutnya.
Mengutip Trading Economics, Rabu (26/8/2026) pukul 13.03 WIB, harga emas turun 0,45% secara harian ke level US$ 4.637 per troy ons.
Research & Development Trijaya Pratama Futures Alwi Assegaf mengatakan, harga emas bergerak melemah pada perdagangan Rabu dengan turun di bawah level US$4.650 per troy ounce. Meski demikian, harga emas masih bertahan di sekitar level tertinggi dalam tiga bulan terakhir.
"Pergerakan tersebut mencerminkan sikap pasar yang cenderung wait and see menjelang rilis indeks harga PCE Amerika Serikat, yang menjadi salah satu indikator inflasi utama dan menjadi perhatian penting bagi Federal Reserve dalam menentukan arah kebijakan moneternya," ujar Alwi dalam risetnya pada Rabu (26/8/2026).
Baca Juga: Begini Prospek Investasi SR025 di Tengah Fluktuasi Pasar
Selain data PCE, perhatian investor mulai mengarah pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium tahunan Jackson Hole pada Jumat. Namun, pasar belum memperkirakan pidato tersebut akan memberikan sinyal yang tegas terkait keputusan suku bunga The Fed pada September.
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS membuat pergerakan dolar AS dan ekspektasi suku bunga tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi momentum harga emas dalam jangka pendek.
Pasar Treasury Jadi Perhatian
Alwi mengatakan, sentimen terhadap emas juga memperoleh dukungan dari perkembangan pasar Treasury AS. Keputusan pemerintah AS untuk menggandakan operasi pembelian kembali surat utang dengan tenor panjang guna mendukung likuiditas turut menjadi perhatian investor.
Baca Juga: Harga Emas Berpeluang Menguat, Potensi Penurunan Yield US Treasury Jadi Katalis
Kebijakan tersebut sebelumnya turut menekan dolar AS hingga mencapai level terendah dalam lebih dari tiga bulan. Kondisi ini memberikan ruang bagi harga emas untuk tetap bertahan di level tinggi.
Di sisi lain, pelemahan harga minyak selama tiga sesi berturut-turut ikut meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi. Penurunan harga energi berpotensi mendukung prospek emas karena dapat memperkuat ekspektasi bahwa tekanan inflasi tetap terkendali.
Pada saat yang sama, ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter masih menjadi faktor pendukung permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.
Dari Asia, perkembangan permintaan fisik emas juga menunjukkan tren positif.
"Impor bersih emas China melalui Hong Kong meningkat sekitar 11% secara bulanan pada Juli, didorong oleh menguatnya permintaan investasi," terang Alwi.
Dengan mempertimbangkan kondisi pasar tersebut, Alwi memproyeksikan level support harga emas dalam jangka pendek berada di US$ 4.605 per troy ons. Sementara itu, level resistance berada di US$ 4.697 per troy ons.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














