Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas dunia terkoreksi pada perdagangan Senin (12/10/2026), setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam sepekan.
Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan sikap hati-hati investor menjelang rilis data inflasi AS menjadi penekan harga logam mulia tersebut.
Mengutip Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,4% menjadi US$ 4.176,86 per ons troi pada pukul 09.11 GMT. Sebelumnya, harga emas sempat mencapai level tertinggi sejak 2 Oktober 2026.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember 2026 melemah 0,4% menjadi US$ 4.200,90 per ons troi.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Jatuh ke Level Terendah dalam Sepekan Dipicu Lonjakan Harga Minyak
Direktur sekaligus CEO ActivTrades Ricardo Evangelista mengatakan, penguatan dolar AS membuat harga emas berada di bawah tekanan. Investor juga cenderung berhati-hati menjelang rilis sejumlah data ekonomi penting AS pekan ini.
Dolar AS bertahan di dekat level terkuatnya dalam satu setengah tahun terakhir.
Ketidakpastian akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah turut mendorong investor bersikap waspada menjelang rilis data inflasi yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Data indeks harga konsumen (CPI) AS dijadwalkan rilis pada Rabu (14/10/2026). Selanjutnya, data indeks harga produsen (PPI) dan penjualan ritel akan dirilis pada Kamis (15/10/2026).
Menurut Evangelista, data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter The Fed.
Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury serta memperkuat dolar, sehingga menekan harga emas.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Naik ke Level Tertinggi Sepekan, Cermati Pemicunya
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga dan memberikan dukungan bagi harga emas.
"Angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat mendorong imbal hasil US Treasury dan dolar AS lebih tinggi, sehingga menambah tekanan terhadap emas," ujarnya.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini sebesar 18%. Sementara itu, probabilitas kenaikan suku bunga hingga Desember diperkirakan mencapai 85%.
Lingkungan suku bunga tinggi cenderung menguntungkan aset yang memberikan imbal hasil, seperti obligasi, dibandingkan emas. Pasalnya, emas tidak memberikan bunga sehingga daya tariknya dapat berkurang ketika imbal hasil instrumen lain meningkat.
Di pasar komoditas lainnya, harga minyak dunia juga melemah pada Senin.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Jatuh ke Level Terendah 1,5 Bulan akibat Lonjakan Harga Minyak
Penurunan ini dipicu ekspektasi bertambahnya pasokan minyak Rusia setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Rusia dan Ukraina sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Kesepakatan tersebut menyusul tercapainya kesepakatan pasokan diesel AS dengan Moskow.
Sementara itu, pergerakan logam mulia lainnya cenderung bervariasi. Harga perak spot turun 0,3% menjadi US$ 60,6219 per ons troi, sedangkan platinum melemah 0,2% menjadi US$ 1.684,71 per ons troi.
Sebaliknya, harga paladium naik tipis 0,1% menjadi US$ 1.149,20 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














