Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Aksi korporasi pembelian kembali saham atau buyback kembali marak dilakukan sejumlah emiten menjelang akhir 2026. Selain berpotensi menopang harga saham di pasar, langkah tersebut menjadi salah satu cara manajemen menyampaikan keyakinannya terhadap prospek dan valuasi perusahaan.
Sejumlah emiten bahkan telah menyiapkan dana dalam jumlah besar untuk merealisasikan aksi tersebut. Dari grup PT Astra International Tbk (ASII), misalnya, dua anak usahanya telah mengumumkan rencana buyback.
PT United Tractors Tbk (UNTR) menyiapkan dana hingga Rp 2 triliun, sedangkan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengalokasikan dana sebesar Rp 400 miliar.
Selain itu, PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR), PT Harum Energy Tbk (HRUM), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) masing-masing menyiapkan dana Rp 500 miliar, Rp 120 miliar, Rp 1,38 triliun, dan Rp 500 miliar untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut.
Baca Juga: Kinerja Reksadana September 2026 Beragam, Mana yang Masih Tumbuh?
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa efektivitas buyback ditentukan oleh dua faktor utama. Pertama, besaran dana buyback dibandingkan dengan kapitalisasi pasar serta likuiditas perdagangan harian saham. Kedua, kesungguhan emiten dalam merealisasikan rencana buyback yang telah diumumkan.
Menurutnya, tidak sedikit emiten yang mengumumkan buyback, tetapi realisasinya jauh di bawah dana yang telah disiapkan. Aksi buyback juga dinilai paling efektif ketika harga saham berada di bawah nilai intrinsiknya dan perusahaan memiliki kas berlebih yang belum terserap untuk ekspansi produktif.
Meski demikian, Wafi mengingatkan bahwa buyback bukanlah pengganti perbaikan fundamental perusahaan. Jika laba perusahaan mengalami penurunan, aksi buyback hanya berpotensi memperlambat penurunan harga saham.
"Pendekatan yang lebih tahan lama adalah memperbaiki margin, menjaga pertumbuhan laba secara konsisten, dan membagikan dividen secara berkelanjutan," kata Wafi kepada Kontan, Jumat (2/10/2026).
Di antara emiten yang mengumumkan rencana buyback, UNTR menjadi salah satu yang paling menonjol dengan nilai aksi korporasi mencapai Rp 2 triliun. Langkah tersebut menjadi sinyal dari manajemen bahwa harga saham dinilai berada di bawah nilai wajarnya, terutama setelah laba semester pertama perusahaan anjlok 88,2% akibat persoalan RKAB dan tambang Martabe. Kedua faktor tersebut kini disebut mulai mengalami pemulihan.
Sementara itu, rencana buyback MBMA senilai Rp 1,38 triliun juga tergolong signifikan. Namun, prospek pergerakan sahamnya masih perlu dicermati karena harga nikel masih menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan atau oversupply.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Sideways Pekan Depan, Investor Cermati Saham Energi
Adapun TOWR perlu diperhatikan secara lebih hati-hati karena perusahaan memiliki beban utang yang besar di tengah tingkat suku bunga yang masih tinggi.
"Sebelum ambil keputusan, cek apakah dibiayai kas internal atau utang, berapa persen realisasinya, dan apakah fundamentalnya mendukung. Jangan beli hanya karena pengumuman," ucap Wafi.
Buyback Bisa Jadi Bantalan Harga Saham
Secara terpisah, Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto mengungkapkan bahwa aksi buyback tetap memberikan sentimen positif bagi saham perusahaan. Sebab, aksi tersebut secara instan menciptakan permintaan di pasar melalui pesanan pembelian yang dilakukan oleh perusahaan sendiri.
Selain itu, investor dapat melihat aksi buyback sebagai indikasi bahwa manajemen memiliki keyakinan terhadap prospek dan valuasi saham perusahaan. Kondisi tersebut memberikan persepsi bahwa harga saham saat ini relatif murah.
Aksi buyback biasanya dilakukan ketika harga saham telah mengalami penurunan cukup dalam. Ketika optimisme pasar mulai terbentuk, aksi tersebut diharapkan dapat menjadi bantalan sekaligus mengurangi tekanan jual dalam jangka pendek.
"Sementara itu untuk kenaikan jangka panjang tetap perlu konfirmasi dari pertumbuhan kinerja dan perbaikan fundamental, hal ini yang lebih perlu dipikirkan oleh perusahaan untuk mendorong kenaikan harga saham yang lebih solid," ungkap Pandhu.
Baca Juga: Astra International Bagikan Dividen Interim Rp98 per Saham, Ini Jadwalnya
Dari sejumlah emiten yang mengumumkan rencana buyback, Pandhu mengatakan investor dapat memperhatikan emiten dengan nilai buyback yang besar dibandingkan dengan kapitalisasi pasarnya.
"Investor juga perlu melihat juga posisi dari valuasi saat ini apakah benar-benar sudah undervalue atau belum, semakin undervalue tentu semakin besar potensial upside nya," jelas Pandhu.
Dengan pertimbangan tersebut, Pandhu melihat TOWR menjadi salah satu saham yang menarik dari sisi valuasi. Saat ini, Price to Earnings Ratio (PER) TOWR berada di kisaran 6,5 kali, sedangkan Price to Book Value (PBV) sekitar 0,8 kali.
Dus, investor bisa mempertimbangkan buy on weakness TOWR dengan target Rp 450-Rp 500 untuk memanfaatkan momentum jangka pendek. "Dan jika memiliki kesabaran menunggu kondisi pasar membaik, target jangka panjang ke kisaran Rp 600-Rp 650," tutur Pandhu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














