Sumber: Reuters | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga emas spot merosot kelevel terendah dalam setahun pada Jumat (30/10/2026). Kondisi ini dipicu oleh anjloknya saham-saham sektor teknologi di tengah kekhawatiran bahwa pengeluaran untuk kecerdasan buatan (AI) mungkin tidak memberikan imbal hasil yang memadai.
Jumat (30/10/2026), harga emas spot anjlok 3,62% ke level 3.875,84, level terendah sejak Oktober 2025. Sementara itu, harga perak jatuh 6,5% menjadi US$ 49 menembus ke bawah level US$ 50 untuk pertama kalinya dalam 11 bulan, dan harga paladium merosot hingga di bawah US$ 1.000.
Harga kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember ditutup turun 3,3% pada harga US$ 3.898,90 per ons.
"Situasinya sedang kacau. Logam mulia tidak akan mampu lolos dari dampak koreksi tajam di pasar saham. Selama ini, laba perusahaan menjadi fondasi utama di balik reli saham AI, dan kini fondasi tersebut mulai retak," ujar Tai Wong, seorang pedagang logam independen seperti dikutip Reuters.
Baca Juga: Wall Street Rontok Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi
Analis di Commerzbank dalam catatannya menyatakan, penurunan tajam saham teknologi pada hari Jumat kemungkinan memicu aksi jual paksa terhadap aset-aset aman (safe-haven) seperti emas, serta memicu margin call.
Mereka menambahkan, harga logam mulia diperkirakan akan kembali pulih ke depannya. Harga emas telah turun 30% sejak mencapai rekor tertinggi sebesar US$ 5.595 pada bulan Januari 2026, dipicu oleh ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Saat ini, harga emas juga berada di bawah tekanan akibat permintaan yang lemah di Asia. Namun, para analis mencatat bahwa permintaan dari bank sentral cenderung menguat ketika harga emas berada di bawah US$ 4.000.
Sementara itu, tiga logam mulia berwarna putih—perak, platina, dan paladium—tidak mendapatkan dukungan yang selama beberapa tahun terakhir diterima oleh emas, yakni berupa pembelian oleh bank sentral dan permintaan sebagai aset investasi yang aman (safe-haven).
Penurunan harga perak, platina, dan paladium sebesar 7% hingga 9% pada minggu ini—dibandingkan dengan penurunan 2,9% pada emas—telah mendorong Relative Strength Index (RSI) aset-aset tersebut jauh ke dalam zona jenuh jual (oversold) untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, yang menandakan kuatnya momentum penurunan (bearish) saat ini.
"Hal yang cukup mengkhawatirkan bagi logam-logam putih ini adalah penurunan yang terjadi berlangsung secara terus-menerus dan berkepanjangan, bukan sekadar lonjakan tajam yang kemudian pulih dengan cepat," ujar Wong.
Baca Juga: Harga Emas Dunia Diprediksi Masih Melemah Pekan Depan, Simak Level Supportnya
Perak kini semakin dipandang sebagai komoditas yang bergantung pada pertumbuhan sektor industri. HSBC menyatakan bahwa permintaan perak untuk kebutuhan industri maupun perhiasan sedang menurun. Mereka memperkirakan harga rata-rata perak akan berada di angka US$ 64 per ons pada tahun 2027, turun dari perkiraan rata-rata US$ 71 per ons untuk tahun ini.
Saat ini, untuk membeli satu ons emas, diperlukan 79 ons perak—rasio tertinggi dalam 11 bulan terakhir—dibandingkan dengan 46 ons pada bulan Januari, saat harga perak sempat mencapai rekor tertinggi sebesar US$ 122.
Secara historis, harga perak masih berpotensi untuk turun lebih jauh terhadap emas; menurut firma konsultan Metals Focus, rasio ini mencatat rata-rata 82 dalam periode 2020 hingga 2025.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













