Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga emas dan perak masih berada dalam tekanan seiring sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (AS) atau Federal Reserve. Di tengah meredanya ketegangan geopolitik global, sentimen suku bunga tinggi menjadi faktor utama yang menahan laju kenaikan logam mulia.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai sinyal hawkish The Fed saat ini memiliki pengaruh yang lebih besar dibandingkan meredanya konflik geopolitik, termasuk adanya kesepakatan damai antara AS dan Iran yang turut menurunkan harga minyak dunia.
Kombinasi kedua faktor tersebut menciptakan tekanan ganda bagi logam mulia. Di satu sisi, ekspektasi suku bunga tinggi membuat investor beralih ke aset yang menawarkan imbal hasil. Di sisi lain, berkurangnya ketidakpastian geopolitik mengurangi fungsi emas sebagai aset lindung nilai.
"Sikap hawkish The Fed menjadi faktor yang paling dominan menekan harga emas dan perak saat ini. Sementara meredanya ketegangan geopolitik hanya menjadi faktor tambahan yang mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen lindung nilai," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (19/6/2026).
Baca Juga: MSCI Redakan Ketidakpastian Pasar, Reksadana Pendapatan Tetap Semakin Menarik
Sinyal hawkish mengindikasikan The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Kondisi tersebut meningkatkan opportunity cost kepemilikan emas dan perak yang tidak memberikan imbal hasil berupa bunga maupun dividen.
Selain itu, kebijakan suku bunga tinggi juga cenderung mendorong penguatan dolar AS. Di sisi lain, emas diperdagangkan dalam denominasi dolar AS sehingga penguatan dolar AS membuat harga emas menjadi lebih mahal bagi investor global sehingga menekan permintaan.
Secara teknikal, tren harga emas masih menunjukkan kecenderungan melemah. Berdasarkan data Trading Economics, harga emas global saat ini dibanderol US$ 4.151 per ons troi setelah sebelumnya sempat mencetak level tertinggi di atas US$ 5.423 per ons troi pada akhir Januari.
Menurut Wahyu, pergerakan tersebut menunjukkan harga sedang menguji area support penting di sekitar US$ 4.097 per ons troi. Jika level tersebut ditembus, penurunan berpotensi berlanjut menuju area di bawah US$ 4.000 per ons troi.
Wahyu menambahkan, koreksi harga emas dinilai masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek hingga menengah.
Meski demikian, daya tarik emas sebagai aset safe haven belum sepenuhnya hilang. Emas masih menjadi instrumen diversifikasi portofolio yang dapat dimanfaatkan investor untuk mengantisipasi potensi perlambatan ekonomi global atau munculnya gejolak baru di pasar keuangan.
Baca Juga: Menilik Prospek Kinerja Emiten yang Memiliki Obligasi Jatuh Tempo pada 2026
Untuk kuartal III-2026, Wahyu memperkirakan harga emas global bergerak dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan melemah. Jika tekanan bearish berlanjut, harga emas berpotensi mencari titik keseimbangan baru di kisaran US$ 3.800 hingga US$ 4.000 per ons troi.
Sementara itu, kisaran atas harga emas diproyeksikan berada pada level US$ 4.800 hingga US$ 5.000 per ons troi apabila terjadi perubahan sentimen pasar atau pelonggaran kebijakan moneter.
Adapun harga emas Antam diperkirakan akan dipengaruhi oleh kombinasi pergerakan harga emas global dan nilai tukar rupiah. Jika harga emas dunia melemah dan rupiah menguat, harga emas Antam berpotensi mengalami koreksi dari level tertingginya.
Sebaliknya, pelemahan rupiah dapat menahan penurunan harga emas domestik. Secara umum, harga emas Antam pada kuartal III-2026 diperkirakan bergerak stabil dengan kecenderungan menguat terbatas pada rentang Rp 2.600.000 hingga Rp 3.300.000 per gram.
Ke depan, investor perlu mencermati sejumlah indikator utama yang berpotensi memengaruhi arah harga logam mulia. Di antaranya data inflasi dan ketenagakerjaan AS, keputusan suku bunga Federal Reserve, perkembangan geopolitik global, serta pergerakan indeks dolar AS (DXY) dan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













