Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tren kenaikan harga emas dinilai masih berpeluang berlanjut di tengah ketidakpastian global yang kian meningkat. Kondisi geopolitik yang tidak menentu menjadi katalis utama yang menopang reli harga emas hingga mencetak rekor baru.
Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai prospek emas ke depan masih sangat positif. Menurutnya, eskalasi risiko global berpotensi mempercepat kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai.
“Prospek emas masih sangat bagus. Situasi geopolitik yang makin tidak menentu akan mempercepat kenaikan harga emas,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Saham UNTR dan ASII Anjlok, Pasar Merespons Pencabutan Izin Tambang Agincourt
Lukman mengungkapkan, harga spot emas internasional saat ini sudah mendekati rata-rata proyeksi analis global di kisaran US$ 5.000 per ons pada 2026. Bahkan, ia memperkirakan harga emas dunia bisa bergerak lebih tinggi di kisaran US$ 5.400 hingga US$ 5.700 per ons, dengan potensi revisi ke atas jika tensi global berlanjut.
Dengan asumsi nilai tukar rupiah berada di level saat ini, Lukman memproyeksikan harga emas Antam pada kuartal I-2026 berada di kisaran Rp 2,9 juta hingga Rp 3 juta per gram. Sebelumnya, harga emas Antam tercatat mendekati Rp 2,8 juta per gram.
Meski demikian, Lukman mengingatkan investor untuk tetap mencermati risiko koreksi jangka pendek. Kenaikan harga emas yang sudah cukup tajam membuka peluang terjadinya aksi ambil untung.
“Investor perlu mewaspadai koreksi karena kenaikan harga yang sangat besar,” ujarnya.
Baca Juga: Rekor Lagi! Harga Emas Antam Hari Ini (21/1): Naik Rp 35.000 ke Rp 2.772.000 Per Gram
Bagi investor yang telah memiliki posisi di emas, Lukman menyarankan untuk tetap menahan kepemilikan. Sementara bagi investor baru, ia menilai risiko membeli di level harga saat ini cukup tinggi.
“Untuk investor yang belum punya posisi, sebaiknya membeli sebagian kecil dulu. Lalu tambah pembelian saat terjadi koreksi,” jelas Lukman.
Ia merekomendasikan strategi dollar cost averaging dengan menyebar pembelian di beberapa level harga guna menekan risiko volatilitas.
Selanjutnya: Peringatan Dini BMKG Cuaca Hari Ini (21/1): Awas Hujan Ekstrem di Jakarta Sekitarnya!
Menarik Dibaca: Peringatan Dini BMKG Cuaca Hari Ini (21/1): Awas Hujan Ekstrem di Jakarta Sekitarnya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













