kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45688,11   9,81   1.45%
  • EMAS918.000 0,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Harga CPO langsung ambruk 5% selepas libur Tahun Baru Imlek


Selasa, 28 Januari 2020 / 12:01 WIB
Harga CPO langsung ambruk 5% selepas libur Tahun Baru Imlek
ILUSTRASI. Ekspor CPO ke China diprediksi turun karena virus corona

Sumber: Bloomberg | Editor: Anna Suci

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak sawit atawa crude palm oil (CPO) langsung ambruk lebih dari 5% setelah pasar kembali dibuka usai libur Tahun Baru Imlek.

Mengutip Bloomberg, Selasa (28/1) pukul 11.50 WIB, harga CPO kontrak pengiriman April 2020 di Malaysia Derivatives Exchange berada di level MYR 2.699 per ton. Posisi ini turun 5,66% dibandingkan penutupan Jumat (24/1) di MYR 2.861 per ton. 

Bahkan, di awal pembukaan perdagangan, harga CPO sempat berada di MYR 2.660 per ton. Ini menjadi level terendah minyak sawit sejak akhir November 2020 lalu. 

Sama seperti komoditas energi lainnya, harga CPO anjlok karena kekhawatiran pasar terhadap penyebaran virus corona. Terlebih setelah China mengumumkan sedikitnya 106 orang tewas dan 4.515 lainnya positif terinfeksi virus corona di Negeri Tirai Bambu saja. 

Baca Juga: Kendati terus melemah, harga CPO justru lebih baik dibanding 2019

Di sisi lain, virus corona pun sudah menyebar ke beberapa negara, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Jepang, Australia, Amerika Serikat, Prancis hingga Jerman. 

Sejumlah negara pun sudah mengumumkan pembatasan perjalanan ke China. Hal tersebut diprediksi dapat memukul ekonomi Negeri Panda tersebut.

Padahal, China merupakan importir CPO terbesar kedua di dunia. "Harga CPO di buka dengan pelemahan yang cukup dalam mengikuti pelemahan di pasar saham dan harga minyak mentah karena tingkat kekhawatiran yang meningkat atas dampak dari virus ini, termasuk kemungkinan ekspot yang lebih rendah ke China," kata Sathia Varqa, pemilik Palm Oil Analytics kepada Bloomberg.

Berkurangnya permintaan juga terjadi karena penurunan konsumsi terhadap CPO untuk restoran dan hotel akibat pembatasan berpergian yang dilakukan China dan negara lainnya. 




TERBARU

Close [X]
×