kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga CPO Global Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Analis Berikut


Senin, 27 Maret 2023 / 20:59 WIB
Harga CPO Global Masih Tertekan, Simak Rekomendasi Analis Berikut
ILUSTRASI. Analis menilai, dampak koreksi harga CPO akan terasa untuk emiten yang berbasis ekspor. ANTARA/Muhammad Izfaldi/foc.


Reporter: Sugeng Adji Soenarso | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak sawit mentah (CPO) masih tertekan, meskipun kembali menguat pada perdagangan Senin (27/3). Analis berpandangan dampak koreksi harga CPO akan terasa untuk emiten yang berbasis ekspor.

Berdasarkan data Bloomberg, harga CPO berada pada level MYR 3.577 per ton pada Senin (27/3), atau naik dari posisi Jumat (24/3) di level MYR 3.512 per ton. Meski begitu, harganya masih di bawah akhir Februari 2023 di level MYR 4.127 per ton.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan dampak penurunan harga CPO global akan bervariasi terhadap masing-masing emiten. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Astra Agro Lestari (AALI) di Tengah Harga CPO yang Lesu

"Yang akan terkena dampak cukup signifikan adalah emiten yang mayoritas mengandalkan pasar ekspor," ujarnya kepada Kontan.co.id, Senin (27/3).

Sementara untuk emiten yang didominasi penjualan domestik justru dinilai akan diuntungkan. Apalagi emiten yang sudah memiliki hilirisasi yang baik sehingga akan menurunkan beban operasional.

Senada, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus berpandagan emiten kelapa sawit berbasis ekspor yang akan merasakan dampaknya. Ia melihat, dampaknya akan berpengaruh terhadap profil penjualan emiten apabila lebih banyak bahkan berfokus ke pasar ekspor.

Nico juga menilai ada beberapa sentimen lainnya yang juga akan mempengaruhi kinerja CPO di samping volatilitas harga. 

Yakni, kebijakan pemerintah atas penurunan rasio hak ekspor untuk mengamankan pasokan dalam negeri jelang Ramadhan dan Lebaran, faktor cuaca yang dapat mempengaruhi produktivitas hingga kinerja, dan ketidakpastian global.

Selain itu, kedua analis melihat permintaan dalam negeri masih cukup baik. Hal ini didukung kebutuhan pangan dan biodiesel yang terus dinaikkan menjadi campuran nabati sebesar 35%, serta pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, untuk permintaan ekspor diprediksi dalam jangka pendek ini masih agak tertekan di tengah risiko perlambatan ekonomi global tahun ini, serta melandainya harga beberapa komoditas global. 

"Permintaan ekspor juga terpengaruh gangguan pasokan global seiring dengan invasi Rusia ke Ukraina," kata Nico.

Baca Juga: Harga CPO Masih Tertekan, Sumber Tani (STAA) Optimistis Jaga Pertumbuhan Kinerjanya

Namun, Nico masih menyukai saham LSIP dan ia merekomendasikan buy LSIP dengan target harga Rp 1.100. 

Sementara Fajar menilai saham SIMP yang menarik dicermati melihat fundamental perusahaan.

Apalagi SIMP mencatatkan pertumbuhan kinerja secara tahunan, terutama dari sisi bottom line di tengah upaya yang dilakukan dalam hal efisiensi dari sisi operasional. 

Selain itu, perseroan juga mencatatkan pertumbuhan rasio profitabilitas secara konsisten dari tahun ke tahun.

"Secara teknikal, SIMP sedang dalam fase uptrend yang cukup solid, investor bisa trading buy dengan target harga terdekat di Rp 408," imbuhnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Success in B2B Selling Omzet Meningkat dengan Digital Marketing #BisnisJangkaPanjang, #TanpaCoding, #PraktekLangsung

[X]
×