kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Harga Batubara & Minyak Dunia Turun dalam Sepekan, Cermati Sentimen dan Prospeknya


Senin, 25 Maret 2024 / 20:07 WIB
Harga Batubara & Minyak Dunia Turun dalam Sepekan, Cermati Sentimen dan Prospeknya
ILUSTRASI. Foto udara aktivitas bongkar muat batu bara di kawasan pantai Desa Peunaga Cut Ujong, Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Selasa (31/1/2023). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan produksi batu bara 2023 mencapai 695 juta ton atau naik 4,82 persen dari target tahun lalu dengan proyeksi kebutuhan domestik sebesar 177 juta ton dan 518 juta ton untuk ekspor. ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom.


Reporter: Nadya Zahira | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA . Harga batubara dan minyak dunia cenderung melemah selama sepekan terakhir. Berdasarkan Trading Economics, Minggu (24/3) harga batubara turun 0,50% di level US$ 128.25 per ton, dan minyak dunia turun 0,08% di level US$ 80.863 per barel dalam sepekan.

Kemudian, pada Senin (25/3), harga minyak dunia kembali turun tipis 0,078% ke level US$ 81.097 per barel pada pukul 19.00 WIB. Sedangkan harga batubara turun 0,43% ke level US$ 127.70 per ton.

Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo mengatakan, sentimen yang membuat harga batubara turun adalah karena ekspor batubara Rusia ke Asia mengalami penurunan 2,61% dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga: Didorong Permintaan Domestik dan Investasi, Ekonomi RI Diramal Tumbuh 4,7%-5,5%

Ditambah, ekspor batubara Rusia merupakan faktor penting dalam dinamika pasar saat ini.

Sentimen selanjutnya, Sutopo mengatakan adalah faktor China yang diperkirakan tidak akan meningkatkan impor batubara pada tahun 2024. Dalam dua bulan pertama tahun ini, China menambang 705,27 juta metrik ton batubara, turun dari 734,23 juta pada tahun sebelumnya.

"Dengan sikap Tiongkok terhadap impor batubara, meningkatkan kekhawatiran akan kelebihan pasokan," kata Ibrahim kepada Kontan.co.id, Seni (25/3).

Selain itu, dia menuturkan sentimen lainnya yakni, adanya ketergantungan India pada batubara untuk kebutuhan pembangkit listrik berbahan bakar batubara telah mencapai titik tertinggi pada bulan Januari 2024. Namun, upaya untuk meningkatkan sumber energi terbarukan tidak berdampak signifikan terhadap konsumsi batubara India.

Baca Juga: BI Proyeksikan Pertumbuhan ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Level 4,7% - 5,5% di 2024

"Namun, perlu diingat bahwa harga batubara dapat berfluktuasi berdasarkan berbagai faktor, jadi penting untuk selalu mengetahui perkembangan pasar," kata dia.

Lebih lanjut, Sutopo mengatakan batubara turun 12,77% ke level US$ 18,70 per metrik ton sejak awal tahun 2024. Dia pun memperkirakan batubara akan diperdagangkan pada harga US$ 129,35 per metrik ton, pada akhir kuartal ini. Sedangkan pada akhir tahun 2024, diproyeksi akan diperdagangkan di US$ 130,72 per metrik ton.

Sementara itu, Sutopo mengatakan sentimen yang membuat harga minyak dunia turun yaitu, karena Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis (21/3) lalu memperkirakan bahwa pasar minyak global akan mengalami defisit hingga akhir tahun 2024, jika OPEC+ mempertahankan pengurangan produksinya saat ini, meskipun keseimbangan tersebut akan berubah menjadi surplus jika OPEC+ mulai memproduksi lebih banyak minyak.

"OPEC+ akan bertemu pada tanggal 1 Juni mendatang untuk memutuskan tingkat produksi pada paruh kedua tahun 2024," kata Sutopo.

Baca Juga: Kementerian ESDM: Belum Ada Ketentuan Perpanjangan Relaksasi Ekspor Konsentrat PTFI

Selain itu, sentimen lainnya Sutopo bilang, datang dari indeks dolar Amerika Serikat (AS) yang menguat saat menjelang keputusan The Fed, sehingga hal ini mengurangi permintaan minyak bagi pembeli di negara-negara yang menggunakan mata uang lainnya.

Namun demikian, dia memproyeksikan bahwa harga minyak dunia akan kembali naik karena kuatnya permintaan minyak mentah Tiongkok saat ini.

"Data pemerintah hari Senin menunjukkan bahwa Tiongkok memproses minyak mentah sebanyak US$ 118,76 per barel, pada bulan Januari dan Februari juga naik 3% dari waktu yang sama tahun lalu," ungkapnya.




TERBARU

[X]
×