kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Hanya dana kelolaan reksadana terproteksi yang turun pada Oktober 2019


Senin, 11 November 2019 / 19:17 WIB
Hanya dana kelolaan reksadana terproteksi yang turun pada Oktober 2019
ILUSTRASI. Dana kelolaan reksadana terproteksi secara industri turun di saat reksadana jenis lain kompak tumbuh.

Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan reksadana terproteksi secara industri turun di saat reksadana jenis lain kompak tumbuh. Karakteristik reksadana yang memiliki jatuh tempo ini menjadi penyebab utama penurunan dana kelolaan tersebut.

Berdasarkan data Infovesta Utama, per Oktober 2019, dana kelolaan reksadana terproteksi turun Rp 859 miliar secara bulanan menjadi Rp 143,72 triliun. Di periode yang sama semua reksadana jenis lain kompak mencatat kenaikan dana kelolaan.

Head of Research & Consulting Service Infovesta Utama Edbert Suryajaya mengatakan, terdapat penurunan unit penyertaan di reksadana terproteksi karena beberapa produk sudah jatuh tempo.

"Jatuh tempo jadi faktor utama yang menurunkan AUM reksadana terproteksi, sementara sulit bagi investor untuk keluar dari reksadana jenis ini, apalagi dengan outlook penurunan suku bunga ke depan," kata Edbert, Senin (11/11).

Baca Juga: Dana kelolaan (AUM) industri reksadana tumbuh Rp 12,48 triliun di Oktober

Head of Fixed Income Fund Manager Prospera Asset Management Eric Sutedja juga berpendapat sama, bahwa penurunan AUM reksadana terproteksi karena jatuh tempo. "Di Prospera AM juga ada produk reksadana yang baru jatuh tempo," kata Eric.

Di satu sisi, penurunan AUM reksadana terproteksi tidak bisa ditahan karena jatuh tempo produk. Di sisi lain, peluncuran produk baru kurang masif. Eric mengatakan sejak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak memperbolehkan reksadana terproteksi untuk memiliki portofolio dalam bentuk surat utang jangka menengah atau medium term notes (MTN), peluncuran produk reksadana terproteksi jadi berkurang.

Sementara, Bayu Pahleza, Fund Manager OSO Manajemen Investasi mengatakan tidak mengalami penurunan dana kelolaan reksadana terproteksi di OSO MI. "Mungkin ada produk reksadana terproteksi dari MI besar yang jatuh tempo sehingga membuat dana kelolaan reksadana terproteksi secara industri jadi turun," kata Bayu.

Meski saat ini dana kelolaan turun, Eric memproyeksikan reksadana terproteksi akan tetap menarik bagi investor dan AUM berpotensi tumbuh. "Prospek reksadana terproteksi masih sangat baik karena spread antara produk deposito bank dan return reksadana ini masih lebar meski suku bunga sudah turun," kata Eric.

Selain itu, masih banyak investor yang membutuhkan produk investasi yang bisa memberikan kepastian imbal hasil.

Baca Juga: Tren penurunan suku bunga, kerek popularitas reksadana pasar uang

Edbert menambahkan, prospek ketidakpastian kondisi global dan kekhawatiran akan terjadi perlambatan ekonomi global membuat reksadana terproteksi yang bisa memberikan imbal hasil secara rutin setiap bulannya ini juga masih dilirik investor. Di tengah tren penurunan suku bunga yang besar kemungkinan masih akan berlanjut hingga tahun depan, Edbert mengatakan hal ini bisa menjadi sentimen negatif bagi reksadana terproteksi karena penawaran yield pada produk baru akan lebih kecil.

"Mumpung suku bunga belum turun lagi dan tawaran yield masih bisa lebih tinggi ini saat yang tepat beli reksadana terproteksi, apalagi jika produk tersebut memiliki surat utang yang berkualitas, dalam waktu cepat pasti akan diborong investor," kata Edbert.




TERBARU

Close [X]
×