kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.863.000   45.000   1,60%
  • USD/IDR 17.144   14,00   0,08%
  • IDX 7.676   175,76   2,34%
  • KOMPAS100 1.063   25,24   2,43%
  • LQ45 764   17,96   2,41%
  • ISSI 277   5,37   1,98%
  • IDX30 406   7,07   1,77%
  • IDXHIDIV20 492   5,61   1,15%
  • IDX80 119   2,81   2,42%
  • IDXV30 137   1,27   0,94%
  • IDXQ30 130   1,67   1,30%

Gejolak Pasar Menekan Dana Kelolaan Reksadana, RDPU Jadi Pelarian Investor


Selasa, 14 April 2026 / 16:35 WIB
Gejolak Pasar Menekan Dana Kelolaan Reksadana, RDPU Jadi Pelarian Investor
ILUSTRASI. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksadana tercatat menurun pada Maret 2026. ? (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksadana tercatat menurun pada Maret 2026. 

Data Infovesta menunjukkan total AUM reksadana turun 2,36% MoM dari Rp 689,8 triliun pada Februari menjadi Rp 673,5 triliun pada bulan Maret 2026.

Penurunan paling dalam terjadi pada reksadana pendapatan tetap yang terkoreksi sekitar 5,5% secara bulanan atau setara Rp 13 triliun, dari sebelumnya Rp 254,9 triliun menjadi Rp 241,2 triliun per Maret 2026. 

Baca Juga: Harga Saham Anjlok, Bank Asal New York Serok Saham TLKM

Selain itu, reksadana berbasis saham seperti reksadana saham, campuran, dan indeks juga mengalami penurunan dana kelolaan. 

Di sisi lain, reksadana pasar uang justru masih mencatatkan pertumbuhan, dari semula Rp 128,5 triliun pada Februari, lalu naik jadi Rp 135,1 triliun di Maret.

Wawan Hendrayana, Vice President Infovesta Utama, menjelaskan bahwa secara year to date (YTD), AUM reksadana sebenarnya masih mencatatkan pertumbuhan. 

Namun, penurunan pada Maret lebih disebabkan oleh aksi ambil untung (profit taking), khususnya pada reksadana pendapatan tetap yang sebelumnya mengalami reli cukup kuat sejak pertengahan 2025.

Baca Juga: Harta Djaya Karya (MEJA) Akan Membagi Saham Bonus, Simak Jadwal Lengkapnya

Ia menambahkan, penyebab utama koreksi tentu saja perang Iran yang memicu kenaikan harga energi. 

Gejolak geopolitik global ini diikuti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) koreksi 15% di Maret 2026. Yield to maturity obligasi negara tenor 10 tahun sempat melonjak dari 6,3% ke 6,9%, yang berarti terjadi penurunan harga. 

Kondisi ini turut memicu pergeseran preferensi investor ke instrumen yang lebih likuid dan relatif aman. Atau dapat diasumsikan, sebagian investor merealisasikan profit pada pendapatan tetap dan beralih ke instrumen yang lebih aman di pasar uang.

“Sentimen geopolitik akibat perang Iran dan ketegangan Selat Hormuz vang mendorong investor beralih ke aset yang lebih likuid dan aman (pasar uang),” ujar Wawan kepada Kontan, Selasa (14/4/2026).

Meski demikian, Wawan memproyeksikan AUM reksadana sepanjang 2026 masih akan bertumbuh, meskipun laju pertumbuhannya berpotensi lebih rendah dibandingkan tahun 2025.

Dalam menghadapi situasi ini, dari sisi strategi ia menyarankan investor untuk cenderung lebih konservatif dalam jangka pendek. 

Investor dapat memanfaatkan reksadana pasar uang sebagai tempat parkir dana sambil menunggu kepastian arah pasar.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Konflik Timur Tengah, Simak Proyeksi untuk Perdagangan Rabu (15/4)

Sementara itu, bagi investor jangka panjang, kondisi saat ini justru dapat dimanfaatkan untuk melakukan akumulasi bertahap (average down), khususnya pada instrumen pendapatan tetap.

Menurutnya, level yield saat ini relatif lebih menarik dibandingkan tahun lalu, meskipun tekanan harga obligasi, terutama yang berbasis Surat Utang Negara (SUN), masih berpotensi terjadi sepanjang 2026.

“Posisi yield saat ini lebih baik dari tahun lalu, meski 2026 masih ada tekanan harga terutama yang berbasis SUN. Namun, kinerja berpotensi membaik pada 2027,” jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Effective Warehouse Management

[X]
×