Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Harga minyak mentah dunia melonjak tajam di tengah eskalasi ketegangan geopolitik di Iran dan ancaman terhadap jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Lonjakan ini dipicu laporan serangan udara di Teheran serta memanasnya konflik internal yang melibatkan kelompok garis keras dan moderat di dalam pemerintahan Iran.
Pada penutupan perdagangan Kamis (23/4/2026), harga minyak Brent naik 3,1% ke level US$105,07 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 3,11% ke US$95,85 per barel.
Kenaikan sempat lebih tinggi sebelum terkoreksi seiring perubahan sentimen pasar yang sangat cepat.
Baca Juga: Harga Emas Turun Saat Dolar Menguat, Penutupan Selat Hormuz Dorong Harga Minyak
Situasi di Iran kian tidak menentu setelah laporan pengunduran diri negosiator utama, Mohammad Baqer Qalibaf, dari tim perunding dengan Amerika Serikat (AS).
Mundurnya Qalibaf dinilai memperkuat posisi kelompok garis keras dan memperkecil peluang tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat.
Di saat yang sama, media Iran melaporkan sistem pertahanan udara di Teheran aktif menanggapi target di atas ibu kota.
Ketegangan meningkat setelah serangan drone dilaporkan menyasar kelompok Kurdi yang berseberangan dengan pemerintah Iran di wilayah Irak.
Konflik ini juga merambah ke Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak global. Iran menunjukkan pengaruhnya di kawasan tersebut, sementara AS meningkatkan tekanan militer.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas: Harga Minyak Kembali ke Level Krusial US$ 100 Per Barel
Presiden AS Donald Trump bahkan mengeluarkan pernyataan keras. “Saya telah memerintahkan Angkatan Laut AS untuk menembak dan menghancurkan kapal mana pun yang memasang ranjau di Selat Hormuz,” tegasnya.
Meski demikian, Trump juga memperpanjang gencatan senjata setelah dorongan mediator Pakistan. Namun hingga kini, lalu lintas kapal di Selat Hormuz masih dibatasi, mencerminkan ketidakpastian tinggi di kawasan tersebut.
Analis pasar melihat pergerakan harga minyak saat ini sangat dipengaruhi dinamika berita yang berubah cepat.
“Pasar seperti roulette (rodal kecil) berita utama. Ada kekhawatiran kita bisa tiba-tiba berada dalam kondisi pasokan yang jauh lebih ketat,” ujar John Kilduff dari Again Capital.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar masih berharap krisis ini dapat diredam. “Pasar tetap percaya akan ada jalan keluar dari situasi ini,” kata Phil Flynn, analis Price Futures Group.
Baca Juga: Konflik Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Brent Melompat ke US$102 Per Barel
Data dari Federal Reserve Dallas menunjukkan ekspektasi beragam dari pelaku industri. Sekitar 39% eksekutif memperkirakan lalu lintas di Selat Hormuz kembali normal pada Agustus, sementara 26% memprediksi pemulihan terjadi pada November.
Hanya 20% yang optimistis kondisi normal dapat tercapai pada Mei.
Ketidakpastian ini membuat pasar minyak tetap rentan terhadap lonjakan harga, terutama jika gangguan pasokan global semakin memburuk akibat konflik yang berkepanjangan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













