kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Gas Alam Berpotensi Jadi Komoditas Energi dengan Kenaikan Terbesar hingga Akhir 2026


Jumat, 04 September 2026 / 21:46 WIB
Gas Alam Berpotensi Jadi Komoditas Energi dengan Kenaikan Terbesar hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Produksi Gas Alam (KONTAN/Daniel Prabowo)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gas alam diproyeksi memiliki ruang penguatan paling besar dibandingkan minyak mentah dan batubara hingga akhir 2026.

Selain berada pada level harga yang relatif rendah, karakteristik gas alam yang sensitif terhadap perubahan cuaca membuat komoditas ini berpotensi bergerak lebih volatil memasuki musim dingin.

Berdasarkan data Trading Economics per Jumat (4/9/2026) pukul 21.25 WIB, harga gas alam berada di level US$ 2,96 per MMBtu, naik 1,66% secara harian. Dalam sepekan, harga gas alam menguat 1,26%, sedangkan secara bulanan telah naik 8,79%.

Baca Juga: Wall Street Nyaris Stagnan, Laporan Tenaga Kerja Memicu Spekulasi Kenaikan Suku Bunga

Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, gas alam memiliki potensi upside terbesar di antara komoditas energi utama hingga penghujung tahun.

Menurutnya, harga gas alam saat ini masih cukup jauh dari level tertingginya dalam setahun yang mencapai sekitar US$ 7,82 per MMBtu.

"Gas alam memiliki potensi persentase penguatan paling besar karena secara valuasi grafik satu tahun, saat ini baru berada di US$ 2,96 dan masih sangat jauh dari level tertingginya," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Selain faktor harga, gas alam juga memiliki sensitivitas tinggi terhadap perubahan cuaca. Memasuki musim dingin di belahan bumi utara, permintaan gas untuk kebutuhan pemanas dan pembangkit listrik berpotensi meningkat dalam waktu singkat.

Di sisi pasokan, Wahyu mengatakan produksi gas serpih (dry gas) Amerika Serikat mulai melambat setelah aktivitas rig gas mengalami penurunan sepanjang pertengahan 2026. Sementara itu, arus pasokan menuju terminal ekspor LNG AS kembali mencapai kapasitas optimal.

Dari sisi permintaan, utilitas di Eropa dan Asia Timur Laut mulai meningkatkan pengisian fasilitas penyimpanan gas untuk menghadapi musim dingin. Kondisi tersebut berpotensi membuat harga gas alam lebih volatil menjelang akhir tahun.

"Terlepas dari isu geopolitik Iran, natural gas secara musiman bisa bergerak liar. Kenaikan drastis bisa mungkin terjadi mendadak dalam suatu waktu nantinya, seperti kebiasaannya," ujar Wahyu.

Baca Juga: Proyeksi Harga Energi Hingga 2026, Batubara Bisa Naik & Minyak Tertekan Geopolitik

Tingginya volatilitas menjadi salah satu karakteristik utama pasar gas alam. Perubahan harga yang besar juga dapat menarik minat pelaku pasar spekulatif karena menciptakan peluang di perdagangan berjangka.

Meski demikian, potensi penguatan gas alam tetap bergantung pada kondisi cuaca dan keseimbangan pasokan-permintaan. Jika musim dingin berlangsung lebih hangat dari perkiraan di Amerika Serikat dan Eropa, permintaan bahan bakar untuk pemanas dapat lebih rendah sehingga berpotensi menahan kenaikan harga.

Hingga akhir 2026, Wahyu memperkirakan harga gas alam berada di kisaran US$ 3,20-US$ 4,50 per MMBtu. Jika terjadi anomali cuaca ekstrem seperti polar vortex di Amerika Serikat atau Eropa, harga berpotensi melonjak ke US$ 5,00-US$ 5,50 per MMBtu, bahkan sekitar US$ 7,00 per MMBtu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×