kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.008   45,00   0,25%
  • IDX 5.779   83,72   1,47%
  • KOMPAS100 750   15,02   2,04%
  • LQ45 569   12,17   2,19%
  • ISSI 200   1,86   0,94%
  • IDX30 322   6,82   2,16%
  • IDXHIDIV20 396   7,56   1,94%
  • IDX80 85   1,72   2,06%
  • IDXV30 108   1,34   1,27%
  • IDXQ30 104   1,85   1,82%

FOMC mendominasi pergerakan GBP/USD


Rabu, 03 Mei 2017 / 18:08 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Data ekonomi Inggris yang dirilis memuaskan gagal mengangkat posisi poundsterling di tengah antisipasi pasar terhadap hasil pertemuan FOMC Kamis (4/5) dini hari nanti.

Mengutip Bloomberg, Rabu (3/5) pukul 17.18 WIB pasangan GBP/USD melemah 0,19% ke level 1,2915 dibanding hari sebelumnya.

Tonny Mariano, Analis PT Esandar Arthamas Berjangka menuturkan pelemahan poundsterling terjadi karena memang pelaku pasar menaruh perhatian lebih besar pada USD. Semua mata tertuju pada bagaimana kenaikan suku bunga The Fed selanjutnya dan mencari peluang terjadinya hal itu pada Juni 2017 mendatang.

“Hal ini yang membuat sajian data Inggris yang memuaskan pasar pun gagal mengangkat poundsterling,” jelas Tonny.

Padahal data PMI konstruksi Inggris April 2017 tumbuh dari bulan sebelumnya 52,2 menjadi 53,1. Nyatanya data tersebut hanya bisa menjadi daya tahan bagi poundsterling dari kejatuhan lebih dalam.

Tingginya perhatian pasar pada rapat FOMC juga yang kemudian membuat Tonny mengarahkan dugaannya bahwa pasangan GBP/USD berpotensi untuk kembali melemah.

“Syaratnya ada indikasi dari pernyataan The Fed bahwa bulan Juni 2017 ini ada kenaikan atau kapan pun kenaikan dilakukan tapi dijelaskan secara gamblang,” imbuh Tonny.

Namun apabila The Fed tidak memberikan kepastian maka bisa saja USD kembali tersungkur dan ini bisa dimanfaatkan GBP untuk membalikkan keadaan. “Semua tergantung The Fed, karena secara tren jangka panjang pasangan GBP/USD masih bearish mengingat ekonominya terus dibayangi proses Brexit,” ujar Tonny. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×