kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Eterindo Wahanatama fokus cari pendanaan untuk rehabilitasi kebun sawit


Selasa, 15 Mei 2018 / 17:09 WIB
ILUSTRASI.


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Sofyan Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Eterindo Wahanatama Tbk (ETWA) fokus lakukan pencarian dana di 2018, untuk memenuhi kebutuhan rehabilitasi kinerja perusahaan. Dengan begitu, diharapkan pendapatan perusahaan bisa meningkat dan menekan angka kerugian tahun ini.

Direktur Keuangan ETWA Azwar Alinuddin mengatakan, dalam gelaran Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), perusahaan telah mengantongi izin pemegang saham untuk mengajukan pinjaman tahun ini.

"RUPS sekarang ini, hanya membahas pemberian hak kepada manajemen untuk meminjam uang ke bank, gadaikan saham dan lainnya. Jadi ini minta izin dan sudah disepakati," jelas Azwar kepada Kontan.co.id di Jakarta, Selasa (15/5).

Ia menjelaskan, beberapa tahun terakhir kinerja perusahaan terkendala aktivitas produksi yang tertahan bahkan jauh lebih rendah dari sebelumnya. Perusahaan memetakan ada tiga masalah yang harus segera dibenahi yakni masalah sosial, fisik perkebunan dan infrastruktur.

Untuk itu, fokus perusahaan tahun ini adalah merehabilitasi kebun sawit, mulai dari rehabilitasi sosial, rehabilitasi fisik perkebunan, hingga rehabilitasi infrastruktur. "Dua kebun kita di Kalimantan Barat (Kalbar) mengalami masalah pemeliharaan yang mengakibatkan produksi buah menjadi tidak baik," kata Azwar.

Saat ini, jika dikomparasikan produksi sawit di kebun milik ETWA tidak berimbang. Saat kondisi normal dalam jangka waktu tujuh tahun, kebun mampu memproduksi 18 ton per hektare. Namun, yang terjadi saat ini, dalam kurun waktu yang sama, kebun hanya mampu memproduksi 10%-25% dari produksi seharusnya, atau hanya 1,8-4,5 ton per hektare.

"Bayangkan, ini sangat menyedihkan," ungkapnya.

Azwar sendiri enggan menyebutkan total kebutuhan pendanaan yang dibutuhkan perusahaan saat ini. Namun, untuk gambaran, jika biaya perawatan kebun per hektar umumnya Rp 10-12 juta, pada tahap rehabilitas dibutuhkan anggaran hingga Rp 16 juta-Rp 18 juta per hektar.

"Itu kebutuhan untuk tanam saja, sedangkan untuk infrastruktur dan sosial belum termasuk, itu lebih ke teknis," tuturnya.

Diharapkan, melalui penjajakan untuk pencarian dana pinjaman, perusahaan dapat mempercepat proses rehabilitasi. Dengan begitu, dalam waktu 2-3 tahun ke depan, produksi bisa kembali pulih.

Di samping itu, Azwar menegaskan bahwa perusahaan belum akan melakukan aksi korporasi maupun ekspansi di tahun ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×