kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   31.000   1,17%
  • USD/IDR 17.664   -12,00   -0,07%
  • IDX 6.636   -31,42   -0,47%
  • KOMPAS100 867   -5,52   -0,63%
  • LQ45 658   -5,19   -0,78%
  • ISSI 231   -0,99   -0,43%
  • IDX30 368   -3,06   -0,83%
  • IDXHIDIV20 455   -4,73   -1,03%
  • IDX80 99   -0,80   -0,81%
  • IDXV30 125   -1,37   -1,08%
  • IDXQ30 118   -1,17   -0,99%

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Masih Berpotensi Menguat hingga Akhir 2026


Jumat, 04 September 2026 / 22:48 WIB
Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Masih Berpotensi Menguat hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Pemandangan dari drone sebuah pompa minyak dan rig pengeboran di selatan Midland, Texas, AS, 11 Juni (REUTERS/Eli Hartman)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah masih melanjutkan penguatan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Risiko konflik di Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menjadi perhatian pasar karena berpotensi mengganggu pasokan dan distribusi minyak global.

Berdasarkan data Trading Economics pada Jumat (4/9/2026) pukul 22.12 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$ 90,311 per barel. Harga WTI naik 8,31% secara mingguan dan menguat 20,09% secara bulanan.

Sementara itu, harga minyak Brent tercatat US$ 95,229 per barel, naik 8,05% dalam sepekan dan menguat 19,81% dalam sebulan.

Baca Juga: Peluang Harga Minyak Brent Tembus Level US$ 122, Ini Penopang Utamanya

Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar minyak mentah sebenarnya masih berada dalam kondisi kelebihan pasokan.

Namun, kondisi tersebut belum mampu menekan harga secara signifikan karena pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik.

“Sebenarnya terjadi oversupply. Oversupply yang begitu besar, tetapi karena masalah geopolitik,” kata Ibrahim kepada Kontan, Jumat (4/9/2026).

Menurut Ibrahim, gesekan geopolitik antara AS dan Iran serta konflik Rusia-Ukraina di Eropa Timur masih menjadi faktor yang menjaga harga minyak mentah tetap tinggi.

Sementara itu, Analis Mata Uang sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, penguatan komoditas energi saat ini mencerminkan kombinasi eskalasi friksi geopolitik di titik sumbat logistik vital dan mulai berlangsungnya siklus penumpukan stok menjelang musim dingin.

“Tindakan kinetik langsung antara militer AS dan Iran di Pulau Larak serta serangan balasan di pos perbatasan Yordania telah mengubah persepsi pasar dari ancaman perang kata-kata menjadi risiko disrupsi fisik jalur pelayaran tanker,” ujar Wahyu.

Baca Juga: Bursa Asia Melemah di Pagi Ini (1/9), Pasar Tertekan Kenaikan Harga Minyak

Kondisi tersebut mendorong kenaikan tarif asuransi risiko perang dan aksi lindung nilai (hedging) oleh kilang-kilang dunia. Selain itu, OPEC+ yang masih disiplin menjaga kuota produksi turut menopang harga minyak.

Hingga akhir 2026, Wahyu memperkirakan WTI dalam skenario dasar berada di kisaran US$ 86-US$ 98 per barel, sedangkan Brent berada di US$ 91-US$ 104 per barel.

Jika terjadi insiden maritim besar di Selat Hormuz, WTI berpotensi mencapai US$ 105-US$ 115 per barel dan Brent US$ 110-US$ 120 per barel.

Sementara itu, Ibrahim memperkirakan WTI berada di level US$ 90-an per barel dan Brent di kisaran US$ 100 per barel hingga akhir 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×