kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45921,46   1,15   0.12%
  • EMAS1.343.000 -0,30%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Emiten Perkebunan Mendapat Angin Segar Dari Kenaikan Harga CPO


Rabu, 22 Februari 2023 / 06:35 WIB
Emiten Perkebunan Mendapat Angin Segar Dari Kenaikan Harga CPO


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) membawa angin segar bagi emiten-emiten perkebunan. Mengutip Bloomberg, Selasa (21/2), harga CPO kontrak Mei 2023 di Bursa Malaysia turun 0,62% ke RM 4.141 per ton. Dalam sepekan terakhir, harga CPO melonjak 4,54%.

Analis Henan Putihrai Sekuritas Alroy Soeparto mengatakan mayoritas emiten perkebunan belum mengeluarkan laporan operasional dan keuangan, baru PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) yang mengeluarkan laporan operasional produksi pada kuartal keempat 2022.

Berdasarkan laporan operasional emiten DSNG hingga Desember 2022, produksi dan harga jual rata-rata CPO naik masing-masing 17,5% dan 21,2% secara tahunan. Sehingga, Alroy memperkirakan emiten lainnya yang memiliki umur pohon prima di 12-15 tahun seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) akan tumbuh positif.

"Kami memperkirakan TAPG dan STAA akan mencatatkan pertumbuhan pendapatan baik itu secara tahunan maupun secara kuartal yang ditopang oleh pertumbuhan produksi dan harga jual rata-rata CPO," kata Alroy kepada Kontan.co.id, Selasa (21/2).

Baca Juga: Perlu Sejumlah Persiapan, Pertamina Salurkan B35 Secara Bertahap

Menurut Alroy, saat ini harga CPO bergerak sideways berkisar di harga RM 3.700 per ton–RM 4.200 per ton. Artinya pergerakan harga CPO tidak signifikan seperti pada semester pertama 2022. 

Dengan demikian, volume produksi dan penjualan CPO menjadi sentimen utama yang dapat mempengaruhi kinerja emiten perkebunan.  Selain itu, perkebunan yang memiliki rata-rata umur pohon prima 12-15 tahun memiliki potensi pertumbuhan produksi karena pohon yang semakin matang untuk berbuah lebih tiap tahunnya. 

Namun, emiten yang memiliki rata-rata umur pohon di atas 15 tahun mulai mengalami penurunan produksi. Sehingga, kinerja operasional produksi dan penjualan CPO akan tercermin pada pertumbuhan atau penurunan pendapatan para emiten perkebunan sawit.

Baca Juga: Astra Agro Lestari (AALI) Targetkan Produksi CPO dari Kebun Inti Naik 5% di 2023

Alroy mengatakan untuk saat ini level produksi dan penjualan CPO merupakan faktor utama untuk kinerja emiten perkebunan sawit. Selain itu program Biodiesel B35 dapat menaikkan harga sawit di tengah intervensi dari negara-negara Eropa.  

Di antara emiten-emiten perkebunan, Alroy merekomendasikan beli untuk saham DSNG dengan target harga masih dalam tinjauan. Dia pun merekomendasikan beli TAPG dengan target harga Rp 850 per saham, dan STAA dengan target harga Rp 1.400 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP) Negosiasi & Mediasi Penagihan yang Efektif Guna Menangani Kredit / Piutang Macet

[X]
×