kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.413.000   30.000   1,26%
  • USD/IDR 16.702   47,00   0,28%
  • IDX 8.509   -37,16   -0,43%
  • KOMPAS100 1.173   -6,40   -0,54%
  • LQ45 846   -6,27   -0,74%
  • ISSI 301   -0,86   -0,28%
  • IDX30 436   -3,82   -0,87%
  • IDXHIDIV20 504   -3,85   -0,76%
  • IDX80 132   -0,78   -0,59%
  • IDXV30 138   0,50   0,36%
  • IDXQ30 139   -1,24   -0,89%

Emiten Berbondong-Bondong Terbitkan Obligasi pada Akhir 2025, Simak Rekomendasinya


Minggu, 30 November 2025 / 17:59 WIB
Emiten Berbondong-Bondong Terbitkan Obligasi pada Akhir 2025, Simak Rekomendasinya
ILUSTRASI. Kontraktor pertambangan batubara PT Bukit Makmur Mandiri Utama atau BUMA, anak usaha PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID). Foto Dok DOID. Menjelang akhir tahun 2025, beberapa emiten dari berbagai sektor cukup getol menawarkan dan menerbitkan surat utang.


Reporter: Dimas Andi | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang akhir tahun 2025, beberapa emiten dari berbagai sektor cukup getol menawarkan dan menerbitkan surat utang baik berupa obligasi maupun sukuk. Momentum penurunan suku bunga acuan jadi faktor pemicu maraknya penerbitan surat utang di kalangan korporasi.

Sebagai contoh, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) baru-baru ini mengumumkan akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I Bank Mandiri Tahap I Tahun 2025 dengan nilai Rp 5 triliun. Dana hasil penerbitan obligasi ini akan digunakan sebanyak 60% untuk membiayai atau membiayai kembali Kegiatan Usaha Berwawasan Lingkungan (KUBL) dan Kegiatan Usaha Berwawasan Sosial (KUBS). 

Selain itu, ada PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang obligasi dan sukuk mudharabah dengan jumlah pokok sebanyak Rp 3,1 triliun, dengan rincian Rp 2,10 triliun untuk obligasi dan Rp 1 triliun untuk sukuk mudharabah. Sebagian dana surat utang tersebut ditujukan untuk pembayaran kembali fasilitas pinjaman, kemudian sisanya untuk membiayai kegiatan anak usaha PT Merdeka Tsinghan Indonesia (MTI).

Baca Juga: Obligasi Korporasi Diproyeksi Berkinerja Positif Hingga Akhir Tahun 2025

PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) juga berencana menerbitkan surat utang global di Bursa Efek Singapura atau SGX-ST dengan nilai mencapai US$ 500 juta atau setara Rp 8,32 triliun. Dana tersebut akan digunakan DOID untuk melunasi utang pinjaman bank, obligasi, fasilitas sewa guna usaha, hingga mendanai sebagian capital expenditure (capex).

Dua emiten Grup Bakrie juga bersiap menerbitkan surat utang. PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menerbitkan obligasi dengan target dana yang dihimpun sebesar Rp 500 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk pembayaran lebih awal pinjaman, pemberian pinjaman kepada anak usaha, hingga untuk modal kerja perusahaan.

PT Bumi Resources Tbk (BUMI) bakal menerbitkan obligasi dengan nilai pokok sebesar Rp 780 miliar. Sebagian dana hasil penerbitan obligasi tersebut akan dipakai untuk pembayaran nilai akuisisi atas Jubilee Metals Limited, perusahaan tambang emas asal Australia. Adapun sisanya digunakan untuk pembayaran uang muka akuisisi PT Laman Mining, perusahaan tambang bauksit asal Indonesia.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, selain didukung oleh mulai rendahnya tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia (BI), penurunan imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) juga menjadi alasan kuat di balik masifnya penerbitan obligasi oleh emiten. Sebab, faktor-faktor tadi dapat menurunkan cost of fund penerbitan suatu obligasi atau sukuk.

Di tengah tingginya volatilitas pasar saham yang terjadi saat ini, emiten tentu akan mencari alternatif pendanaan. “Ketika tingkat suku bunga rendah, maka obligasi bisa menjadi salah satu pilihan,” ujar dia, Jumat (28/11).

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi sepakat, cost of fund yang ditanggung emiten penerbit obligasi kini semakin murah seiring tren suku bunga acuan global yang mulai turun. Ditambah lagi, banyak emiten yang membutuhkan dana untuk refinancing dan ekspansi pada 2026. Hal ini pada akhirnya memicu ramainya penerbitan surat utang pada akhir 2025. 

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su menilai, penurunan suku bunga acuan menjadi peluang bagi emiten untuk menerbitkan obligasi dengan kupon yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. 

Sebagai contoh, bulan September lalu, BUMI pernah menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap II Tahun 2025 yang salah satu serinya menawarkan kupon 9,25% untuk tenor lima tahun. Selanjutnya, BUMI berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap III Tahun 2025 dengan kupon 9% untuk tenor lima tahun, atau lebih rendah dari kupon obligasi sebelumnya. Kedua obligasi ini sama-sama menyandang peringkat idA+ dari Pefindo.

Para analis menganggap ada beberapa hal yang harus diperhatikan emiten ketika hendak menerbitkan obligasi jelang akhir tahun ini. Di antaranya adalah proyeksi tingkat suku bunga acuan The Fed dan BI, proyeksi inflasi di Amerika Serikat (AS) dan di dalam negeri, proyeksi penerbitan obligasi setiap tahunnya, proyeksi nilai tukar, rasio likuiditas, hingga peringkat surat utang.

“Bilai instrumen diterbitkan di luar negeri, maka risiko nilai tukar harus dicermati. Perlambatan ekonomi dan ketidakpastian global juga bisa membuat proses bookbuilding cenderung lebih menantang,” ungkap Harry, Jumat (28/11).

Lantas, penerbitan obligasi ataupun sukuk diprediksi akan tetap ramai pada 2026 mendatang, terutama pada kuartal pertama dan kedua saat kebijakan makroekonomi cukup longgar.

Pendanaan lewat surat utang diprediksi akan banyak digunakan oleh emiten dengan kebutuhan capex besar seperti sektor pertambangan, energi terbarukan, pengembang kendaraan listrik, dan hilirisasi. Selain itu, surat utang juga akan kembali diandalkan oleh emiten yang memiliki utang jatuh tempo besar.

“Tantangannya ada pada tekanan peringkat utang, volatilitas forex, dan preferensi investor yang makin selektif,” imbuh Wafi, Jumat (28/11).

Arinda juga memprediksi bahwa obligasi masih akan jadi salah satu pilihan utama bagi emiten ketika hendak mencari pendanaan pada 2026, terutama jika ruang penurunan suku bunga acuan kembali terbuka. Di sisi lain, nilai emisi maupun frekuensi penerbitan surat utang akan disesuaikan kembali dengan kondisi keuangan dan kebutuhan dana masing-masing emiten.

Dari sekian emiten yang baru-baru ini hendak menerbitkan surat utang, Arinda memandang BMRI menjadi yang paling menarik bagi investor. Walau begitu, investor harus memperhatikan tujuan dari penerbitan surat utang serta mencermati rasio utang emiten yang bersangkutan.

Wafi menyebut, saham DOID cocok untuk trading jangka pendek dengan target harga di level Rp 470 per saham. Saham ENRG punya keunggulan berkat momentum industri migas yang stabil, namun leverage tinggi, sehingga harga sahamnya ditargetkan berada di level Rp 1.000. 

Saham BUMI juga dapat dicermati investor meski kinerjanya masih volatil, di mana Wafi menargetkan harga saham emiten tersebut dapat mencapai Rp 250 per saham. Sebaliknya, saham BMRI dinilai paling solid dan berfundamental kuat, sehingga ditargetkan dapat mencapai level Rp 5.500 per saham.

Wafi menyarankan investor untuk bermain lebih aman dengan memilih emiten yang punya arus kas kuat dan leverage stabil. “Emiten yang terlalu sering andalkan utang biasanya kinerjanya fluktuatif dan cenderung tinggi risiko,” pungkas dia.

Baca Juga: Saham OPMS Menguat Tajam Jelang RUPS, Rumor Masuknya Investor Strategis Mencuat

Selanjutnya: 4 Jenis Kartu Kredit Bank Mega dengan Fitur Unggulan untuk Setiap Gaya Hidup

Menarik Dibaca: Hasil Syed Modi India International 2025, Indonesia Bawa Pulang Juara Ganda Campuran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×