Reporter: Yasmine Awalia | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) dan dua anak usahanya menyiapkan fasilitas pinjaman hingga Rp 6,45 triliun kepada PT Pani Industri Nusantara (PIN).
Pendanaan ini menjadi salah satu penopang ekspansi Grup Merdeka, terutama pengembangan Tambang Emas Pani.
EMAS memberikan fasilitas hingga Rp 3,05 triliun, sedangkan PT Gorontalo Sejahtera Mining (GSM) dan PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS) masing-masing menyediakan plafon Rp 1,70 triliun.
Dana tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan umum korporasi, termasuk belanja modal (capex) dan belanja operasional (opex).
Baca Juga: Pasokan Emas Jalur Resmi Masih Rendah, Pemerintah Pacu Formalisasi Tambang Emas
PIN sendiri bergerak di bidang pemurnian dan peleburan logam mulia. Fasilitas pinjaman berlaku hingga akhir 2031 dengan bunga INDONIA ditambah 1,70% dan diberikan tanpa jaminan.
Dua analis menilai transaksi tersebut berpotensi memperkuat pendanaan pengembangan Pani. Namun, besarnya plafon pinjaman belum otomatis berarti produksi emas akan meningkat karena realisasinya tetap bergantung pada eksekusi proyek dan kemampuan aset menghasilkan arus kas.
Senior Technical Analyst M. Nafan Aji Gusta mengatakan fasilitas tersebut dapat membantu mengurangi risiko tertundanya pengembangan fasilitas produksi akibat keterbatasan likuiditas.
"Fasilitas ini dapat mendukung percepatan pengembangan Tambang Emas Pani," ujar Nafan kepada Kontan, Kamis (1/10/2026).
Menurut dia, ketersediaan pendanaan tetap bukan jaminan kenaikan produksi. Output Pani akan ditentukan oleh keberhasilan ramp-up, pembangunan fasilitas pengolahan, tingkat recovery, kualitas bijih, serta pengendalian biaya operasional dan capex.
Baca Juga: Rebalancing GDXJ Pukul EMAS, Analis Rekomendasikan Wait and See Dulu
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai pemberian fasilitas tersebut sejalan dengan perkembangan operasional Pani. Produksi emas Pani meningkat dari sekitar 1.818 ounces pada kuartal I menjadi 15.594 ounces pada kuartal II-2026.
Di saat yang sama, EMAS tengah mengembangkan fasilitas carbon-in-leach (CIL) berkapasitas 12 juta ton per tahun yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028.
Pendanaan tersebut berpotensi digunakan untuk pembangunan fasilitas, pengadaan peralatan, infrastruktur, serta kebutuhan operasional untuk mendukung peningkatan produksi.
Namun, Ekky menilai fasilitas pinjaman tersebut lebih tepat dilihat sebagai enabler ekspansi, bukan jaminan produksi akan tumbuh lebih cepat. Keberhasilan ekspansi tetap bergantung pada penyelesaian konstruksi, recovery rate emas, pengendalian capex dan proses ramp-up.














