Reporter: Vivit Dewi | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga batubara masih bertahan di level tinggi setelah sempat mencapai level tertinggi sejak September 2023. Pergerakan harga kini turut menjadi perhatian di tengah ketidakpastian prospek pasokan dari Australia.
Melansir Trading Economics pada Kamis (8/10/2026) pukul 16.06 WIB, harga batubara berada di level US$ 150 per ton, turun 1,28% secara harian. Meski terkoreksi, harga tersebut masih menguat 2,56% dalam sepekan dan naik 1,80% dalam sebulan.
Harga batubara juga mendapat sentimen dari perkembangan di Australia setelah Mahkamah Agung Australia menolak banding Mach Energy Australia terkait rencana perluasan tambang batubara di New South Wales (NSW).
Baca Juga: Segar Kumala (BUAH) Berencana Bagikan Dividen Interim Rp 20 Miliar, Ini Jadwalnya
Mahkamah memutuskan bahwa otoritas perencanaan gagal memperhitungkan secara memadai emisi yang dihasilkan pelanggan yang membakar batubara dari tambang tersebut. Putusan ini berpotensi melemahkan investasi di sektor pertambangan Australia dan menambah tekanan terhadap prospek pasokan batubara di masa depan.
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, kenaikan harga batubara saat ini masih ditopang oleh kondisi fundamental, meski belum mencerminkan adanya kekurangan pasokan secara global.
"Kenaikan harga batubara masih cukup beralasan, terutama karena harga LNG yang tinggi membuat batubara lebih kompetitif untuk pembangkit listrik, ditambah cuaca panas dan ketidakpastian ekspor Indonesia," kata Lukman kepada Kontan, Kamis (8/10/2026).
Lukman memperkirakan penguatan harga batubara masih terbuka apabila gangguan pasokan berlangsung lebih panjang dan harga gas tetap tinggi. Namun, ruang kenaikan dapat menyempit apabila kondisi geopolitik mulai mereda.
Sementara itu, Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, kebutuhan winter restocking di belahan bumi utara serta keterbatasan pasokan global menjadi katalis yang menopang harga batubara hingga akhir tahun.
Wahyu juga melihat level US$ 152 per ton masih memiliki dukungan fundamental yang kuat. Pertumbuhan pasokan batubara global masih terbatas karena investasi di sektor pertambangan belum meningkat signifikan.
"Pasokan batubara global tidak bertambah secara signifikan karena investasi modal pertambangan global yang terbatas akibat komitmen transisi energi," kata Wahyu.
Selain itu, hambatan operasional dan logistik di sejumlah negara eksportir turut berpotensi memperketat pasokan. Kondisi tersebut dapat semakin mendukung harga apabila krisis energi Timur Tengah berlanjut dan mendorong peningkatan penggunaan energi fosil.
Untuk proyeksi harga, Lukman memperkirakan batubara Newcastle berada di kisaran US$ 140-US$ 160 per ton hingga akhir tahun. Sementara itu, Wahyu membuka peluang harga thermal coal Newcastle menguji US$ 160-US$ 180 per ton apabila tekanan pasokan dan risiko geopolitik berlanjut.
Baca Juga: Kurs Rupiah Tertekan Yield AS dan Geopolitik, Intip Proyeksinya untuk Jumat (9/10)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














