kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.800.000   35.000   1,27%
  • USD/IDR 17.703   27,00   0,15%
  • IDX 6.182   -136,64   -2,16%
  • KOMPAS100 817   -15,65   -1,88%
  • LQ45 625   -5,67   -0,90%
  • ISSI 218   -7,07   -3,14%
  • IDX30 358   -2,33   -0,65%
  • IDXHIDIV20 447   -1,58   -0,35%
  • IDX80 94   -1,54   -1,61%
  • IDXV30 123   -1,32   -1,07%
  • IDXQ30 117   -0,27   -0,23%

Sektor Komoditas Diuntungkan Gejolak Global, Tapi Risiko Regulasi Membayangi


Kamis, 21 Mei 2026 / 09:44 WIB
Sektor Komoditas Diuntungkan Gejolak Global, Tapi Risiko Regulasi Membayangi
ILUSTRASI. Nilai ekspor komoditas nonmigas unggulan Sumsel turun (ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sektor komoditas diperkirakan menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan di tengah gejolak geopolitik global, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga energi.

Namun di balik peluang tersebut, tingginya risiko kebijakan, ketidakpastian regulasi, masih membayangi prospek sejumlah subsektor komoditas pada 2026. 

Associate Director, Corporate Ratings, S&P Global Ratings, Ker Liang Chan menjelaskan bahwa sektor komoditas Indonesia akan diuntungkan dalam kondisi saat ini, di mana kenaikan harga hidrokarbon dan logam, yang kemungkinan akan mengimbangi kenaikan beban biaya.

Namun, risiko kebijakan dan regulasi tetap tinggi di sektor-sektor seperti minyak sawit, logam, dan pertambangan. 

Liang Chan berpendapat bahwa pemangkasan kuota produksi sejumlah komoditas tambang seperti nikel dan batubara termal, khususnya dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026, dapat merugikan beberapa unit ekonomi terutama untuk operator yang lebih kecil. 

Baca Juga: IHSG Rebound ke 6.351, Top Gainers LQ45: BUMI, HRTA dan INKP, Kamis (21/5)

Pada saat yang sama, penegakan hukum yang lebih ketat terhadap praktik lingkungan dan penambangan ilegal dapat meredam sentimen investasi, terutama saat ketidakpastian meningkat.

Menurutnya, secara keseluruhan kondisi pendanaan domestik seharusnya tetap mendukung pada tahun 2026. Meskipun rupiah telah melemah, sebagian besar perusahaan tampaknya mampu menyerap depresiasi moderat, dengan dampak terbatas pada margin dan pembayaran utang. 

"Ini mencerminkan pergeseran menuju pendanaan domestik dalam beberapa tahun terakhir, mengurangi ketergantungan pada utang mata uang asing, dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan eksternal,” ungkap Liang Chan dalam acara Indonesia Credit Spotlight 2026 oleh Pefindo dan S&P Global Ratings di Jakarta, Selasa (20/5/2026).

Pada kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-2 PEFINDO, Yogie Perdana menyampaikan bahwa di tengah depresiasi rupiah dan risiko limpahan dari konflik Timur Tengah, perusahaan non-keuangan Indonesia menghadapi konvergensi tekanan kredit pada tahun 2026, termasuk pelebaran spread kredit, tantangan refinancing sebesar Rp 121 triliun, dan kompresi margin. 

Namun demikian, Kepala Divisi Pemeringkatan Non-Jasa Keuangan-1 PEFINDO, Martin Pandiangan menekankan, bahwa pihaknya memproyeksikan sektor komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO), hulu minyak dan gas, serta pertambangan emas akan diuntungkan dari dinamika geopolitik yang sedang berlangsung dan depresiasi rupiah, terutama karena keseimbangan permintaan-penawaran dan arus kas dalam denominasi dolar AS

Baca Juga: Harga Saham Anjlok 60-an%, Harta Konglomerat Indonesia Ini Susut Rp 230 Triliun Lebih

Martin menambahkan, sebaliknya, sektor hilir seperti logam dan petrokimia diperkirakan akan menghadapi tantangan struktural terkait ketersediaan bahan baku, biaya energi yang lebih tinggi, dan volatilitas permintaan industri. 

"Sementara itu, sektor lain termasuk pertambangan batubara dan nikel, telekomunikasi, dan barang konsumsi pokok, diperkirakan akan mengalami dampak yang sebagian besar netral," imbuhnya.

Martin berpendapat bahwa peningkatan fokus pada integrasi hilir dan efisiensi operasional di antara BUMN seharusnya mendukung posisi strategis yang lebih kuat melalui peningkatan ketahanan bisnis, peningkatan perolehan nilai, dan peningkatan stabilitas keuangan dan nilai tukar. 

”Namun, kami juga mengantisipasi risiko keuangan dan struktural, khususnya terkait dengan peningkatan leverage dari belanja modal yang didanai utang dan kelayakan ekonomi proyek-proyek kompleks,” pungkas Martin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×