Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Prospek PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) pada 2026 dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan, terutama ditopang oleh segmen financial technology (fintech) yang kian agresif dikembangkan perseroan.
Untuk diketahui, manajemen GOTO menyebut, nilai buku pinjaman konsumen (outstanding loan) hingga Desember 2025 mencapai Rp 8,8 triliun, sejalan dengan target perseroan yang membidik ekspansi pinjaman konsumen lebih dari Rp 8 triliun hingga akhir tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut tergolong agresif. Nilai outstanding loan ini meningkat 68% secara tahunan alias year on year (yoy). Seiring ekspansi penyaluran pinjaman, pendapatan dari bisnis lending juga melonjak 95% yoy menjadi Rp 3,8 triliun.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Teknikal Saham BBCA, PWON, dan BUMI untuk Rabu (1/4)
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai, bisnis fintech telah menjadi mesin pertumbuhan utama GOTO, terutama sejak akhir 2025. Ke depan, tren pertumbuhan ini diperkirakan masih akan berlanjut seiring penguatan ekosistem digital perusahaan.
“Pada 2026, tren kenaikannya masih berpotensi berlanjut, apalagi GOTO fokus pada GoPay, baik GoPay Tabungan maupun GoPay Later,” ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (31/3/2026).
Menurut dia, integrasi layanan GOTO dengan platform seperti Tokopedia dan TikTok turut memperkuat ekspansi bisnis fintech. Hal ini memungkinkan perusahaan menjangkau pengguna tanpa biaya akuisisi yang besar, karena didukung basis data transaksi yang luas.
Selain itu, keberadaan sistem credit scoring berbasis ekosistem serta pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memantau perilaku pembayaran secara real-time dinilai mampu menjaga kualitas kredit. Dengan demikian, risiko kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) dapat tetap terkendali pada level yang sehat.
Baca Juga: IHSG Tertekan di Akhir Kuartal I, Bagaimana Prospek Pergerakan IHSG Selanjutnya?
Tak hanya itu saja, GOTO mencatatkan EBITDA yang disesuaikan (adjusted EBITDA) sebesar Rp 2 triliun di 2025. Pencapaian ini berada di atas pedoman kinerja (guidance) perseroan yang sebelumnya dipatok pada rentang Rp 1,8 triliun hingga Rp 1,9 triliun.
Khusus untuk kuartal IV 2025, EBITDA grup yang disesuaikan juga melesat 106% menjadi Rp 672 miliar, dari kuartal IV-2024 sebesar Rp 326 miliar.
Berkaca pada kinerja positif ini, GOTO pun memberikan panduan kinerja yang lebih optimistis untuk tahun 2026. Perusahaan menargetkan adjusted EBITDA sebesar Rp 3,2 triliun hingga Rp 3,4 triliun, atau tumbuh sekitar 60% yoy.
Analis UBS Navin Killa bersama rekannya Joshua Tanja mengatakan, pertumbuhan adjusted EBITDA pada 2026 akan ditopang oleh dua segmen utama. Pertama, yakni dari segmen on-demand services (ODS), yang mana adjusted EBITDA diproyeksikan mencapai Rp 1,7 triliun hingga Rp 1,8 triliun.
“Sementara itu, segmen fintech diperkirakan memberikan kontribusi lebih besar dari estimasi, dengan adjusted EBITDA ditargetkan berada di kisaran Rp 1,4 triliun hingga Rp 1,5 triliun,” jelas analis UBS dalam riset 11 Maret 2026.
Nafan juga menyebut segmen ODS seperti Gojek juga menunjukkan perbaikan kinerja, meskipun belum sepenuhnya mencetak laba bersih. Nafan menyebut, dari sisi operasional, bisnis ini sudah menunjukkan profitabilitas, sementara perbaikan bottom line hanya membutuhkan waktu.
“Top line-nya sudah bertumbuh, termasuk nilai transaksi lintas layanan juga meningkat. Tinggal menunggu waktu sampai benar-benar mencetak laba bersih,” tambah Nafan.
Adapun dari sisi katalis, Nafan melihat stabilitas daya beli masyarakat menjadi faktor penting yang dapat menopang kinerja GOTO di 2026. Namun, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko eksternal yang perlu diwaspadai.
Salah satunya adalah potensi kenaikan inflasi yang dapat menekan daya beli. Selain itu, eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berisiko mendorong harga minyak dunia tembus di atas US$ 100 per barel, yang pada akhirnya bisa memicu penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri.
Dari sisi kebijakan moneter, Nafan juga mencermati ketidakpastian arah suku bunga. Meski masih ada peluang penurunan suku bunga acuan, risiko penundaan tetap terbuka akibat tekanan inflasi global.
Faktor geopolitik termasuk dinamika kebijakan Amerika Serikat, juga dinilai berpotensi memicu ketidakpastian pasar yang berdampak pada perekonomian dan tekanan konsumsi domestik.
Melansir laporan keuangan per 31 Desember 2025, GOTO mengantongi pendapatan bersih mencapai Rp 18,32 triliun. Tumbuh 15,27% secara tahunan dari Rp 15,89 triliun.
Namun, jumlah biaya dan beban GOTO meningkat sebesar 3,12% yoy menjadi Rp 17,70 triliun di 2025 dari posisi 2024 yang mencapai Rp 18,13 triliun.
Alhasil, rugi periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk GOTO terkisis 77% secara tahunan menjadi Rp 1,18 triliun di 2025. Turun dari Rp 5,15 triliun.
Nah, seiring berlanjutnya ekspektasi pertumbuhan kinerja, Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengestimasi pendapatan bersih GOTO akan meningkat 14,6% dari Rp 18,32 triliun pada 2025 menjadi Rp 21,00 triliun pada 2026. Sementara dari sisi bottom line, GOTO juga diproyeksikan berbalik mencetak laba bersih sebesar Rp 1,65 triliun pada 2026.
Dengan begitu, Ryan memberikan rekomendasi kepada investor untuk Buy saham GOTO dengan target harga Rp 110 per saham.
Kemudian analis UBS memberikan rekomendasi Buy saham GOTO dengan target Rp 100 per saham. Namun, Nafan masih memberikan rating untuk Wait and See terhadap saham GOTO.
Baca Juga: Laba Grup Indofood (INDF) dan (ICBP) Kompak Melejit Dua Digit pada 2025
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













