Reporter: Dityasa H Forddanta | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
JAKARTA. Awal 2017, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru turun 0,39% ke level 5.275. Namun, penurunan ini bukan karena aturan penolakan otomatis alias auto rejection dikembalikan menjadi simetris.
Analis menilai IHSG turun karena pasar belum normal. "Lebih karena pasar sepi," ujar Heldy Arifien, Analis Mirae Asset Sekuritas kepada KONTAN, Senin (3/1).
Kemarin, nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) hanya Rp 4,61 triliun dengan volume 5,90 miliar unit saham. Frekuensi transaksi sekitar 174.696 kali. BEI juga menerapkan lagi auto rejection secara simetris. Artinya, batas atas dan batas bawah auto rejection memiliki besaran yang sama di setiap fraksi harga.
Batas auto rejection untuk harga penawaran jual atau permintaan beli saham yang dimasukkan ke sistem perdagangan BEI dengan rentang saham Rp 50-Rp 200 akan dikenai batas atas dan batas bawah 35%.
Lalu, untuk harga saham Rp 200-Rp 5.000, batas auto rejection atas dan bawah sebesar 25%. Sedangkan harga saham Rp 5.000 ke atas dikenai batas auto rejection 20%.
Analis Panin Sekuritas Frederik Rasali menambahkan, rentang penurunan indeks pada perdagangan awal tahun ini juga masih sama dengan penurunan saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP). Saham penggerak indeks ini turun 0,78% ke level Rp 3.800 per saham.
"Jadi, penurunan indeks bukan karena auto rejection baru, karena sepi saja. Soalnya, big caps juga belum bergerak," jelas Frederik.
Ia menambahkan, auto rejection malah kemungkinan tidak berpengaruh besar terhadap saham berkapitalisasi besar alias big caps yang selama ini menjadi motor IHSG. Sebab, rata-rata pergerakan saham big caps dalam sehari rentangnya hanya sekitar 4%, jauh dari batas auto rejection.
"Jadi, aturan auto rejection justru lebih berasa untuk small caps," tambah dia.
Pada perdagangan kemarin, sebanyak 11 saham turun lebih dari 10%. Seluruh saham adalah saham berkapitalisasi menengah dan kecil. Heldy memprediksi, dampak auto rejection simetris baru akan terasa mulai pekan depan.
Setidaknya, perdagangan lebih bergairah karena musim liburan sepenuhnya berakhir pekan depan. Analis Binaartha Sekuritas Reza Priyambada sependapat. "Sekarang indeks kehabisan sentimen, jadinya profit taking," kata Reza. Alhasil, indeks bergerak melemah di perdagangan perdana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













