Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana kompak tertekan di sepanjang bulan Maret 2026 seiring gejolak pasar global yang meningkat.
Data Infovesta mencatat, per 31 Maret 2026, kinerja reksadana saham merosot sebesar 10,43% secara bulanan (MoM), disusul reksadana campuran minus 5,62% MoM dan reksadana pendapatan tetap terkoreksi 1,40% MoM.
Sementara itu, reksadana pasar uang masih mencatatkan kinerja positif sebesar 0,29% MoM.
Direktur Panin Asset Management, Rudiyanto, menilai tekanan terhadap kinerja reksadana pada Maret dipicu faktor eksternal, khususnya eskalasi konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) yang berada di luar ekspektasi pasar.
“Eskalasi perang Iran-AS mendisrupsi harga minyak secara signifikan. Dampaknya, reksadana berbasis obligasi juga ikut tertekan karena harga minyak berpengaruh terhadap inflasi,” ujar Rudiyanto kepada Kontan, Kamis (2/4/2026).
Lonjakan harga energi mendorong kekhawatiran inflasi global, yang pada akhirnya memicu tekanan di pasar obligasi maupun saham. Kondisi ini turut menyeret kinerja reksadana, terutama yang memiliki eksposur besar pada kedua instrumen tersebut.
Rudiyanto menjelaskan, pelemahan reksadana saham sejalan dengan koreksi pasar saham domestik. Meski demikian, prospek ke depan masih terbuka, dengan catatan kondisi eksternal mulai stabil.
Ia menilai, potensi rebound reksadana sangat bergantung pada meredanya konflik geopolitik dan stabilisasi harga minyak. Namun, faktor yang lebih krusial adalah kemampuan emiten dalam mencatatkan pertumbuhan laba pada tahun ini.
“Tapi yang lebih utama adalah apakah kinerja perusahaan dapat membaik di 2026 ini,” kata dia.
Hal serupa juga berlaku untuk reksadana campuran, yang kinerjanya merupakan kombinasi dari saham dan obligasi. Jika kedua pasar tersebut pulih, maka peluang perbaikan kinerja reksadana campuran juga terbuka.
Untuk reksadana pendapatan tetap, Rudiyanto melihat tekanan yang terjadi justru membuka peluang. Penurunan harga obligasi dalam beberapa waktu terakhir membuat valuasi menjadi lebih menarik.
“Untuk obligasi, penurunan harga sudah cukup besar sehingga secara valuasi sudah relatif murah. Jika kondisi membaik, diharapkan kinerja bisa positif,” jelasnya.
Ditopang Harga Komoditas dan Energi
Secara keseluruhan, Rudiyanto menilai prospek reksadana pada 2026 masih cukup bergantung pada dinamika global, khususnya harga komoditas dan energi.
Ia menambahkan, secara historis, kenaikan harga komoditas dan energi justru dapat memberikan sentimen positif bagi perekonomian Indonesia, seperti yang terjadi saat konflik Rusia-Ukraina.
“Secara historis, ketika harga komoditas dan energi naik, cenderung positif untuk Indonesia,” ujarnya.
Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, investor disarankan tetap mencermati kondisi pasar dan menyesuaikan strategi investasi dengan profil risiko masing-masing.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













