kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Dolar AS Tertekan, Analis Ungkap Valas Utama yang Paling Prospektif


Jumat, 21 Agustus 2026 / 18:06 WIB
Dolar AS Tertekan, Analis Ungkap Valas Utama yang Paling Prospektif
ILUSTRASI. VALAS USD EURO (Khademian Farzaneh/ABACA via REUTERS)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah mata uang utama menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir seiring pelemahan indeks dolar AS (DXY) ke kisaran 98. 

Melansir Trading Economics pada Jumat (21/8) pukul 17.25 WIB, indeks dolar AS melorot ke level 98,6 atau melemah 2,4% dalam sebulan terakhir.

Sejalan dengan itu, valas euro (EUR) tercatat bertengger di 1,1704 per dolar AS atau menguat 2,5% dalam satu bulan terakhir. Poundsterling (GBP) berada di level 1,3666 per dolar AS atau menguat 2,05% sebulan. Begitu pula dolar Australia (AUD) juga menguat 2,13% sebulan terakhir menjadi 0,7160 per dolar AS.

Analis mata uang dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, mengatakan fenoma tersebut didorong oleh sejumlah sentimen yang menekan dolar AS. 

Baca Juga: Rupiah Berpotensi Menguat Pekan Depan, Data AS Jadi Kunci

“Isu utamanya adalah deeskalasi Iran sehingga oil lebih rendah, inflasi lebih rendah, FOMC terakhir tidak mengubah suku bunga, intervensi yen yang terkoordinasi antara Kementerian Keuangan AS dan BoJ, serta terbaru intervensi obligasi AS oleh Kementerian Keuangan AS. Semuanya pro pelemahan USD," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).

Wahyu menjelaskan, langkah US Treasury memperbesar program pembelian kembali obligasi tenor panjang (bond buyback) turut memberikan dukungan likuiditas ke pasar. Kondisi tersebut menahan kenaikan yield US Treasury 10 tahun yang sebelumnya berada di area 4,69%-4,70%.

Menurut dia, meredanya tekanan pada pasar obligasi AS turut membatasi penguatan dolar karena daya tarik imbal hasil atau yield premium dolar AS berkurang.

"Stagnasi kenaikan imbal hasil US Treasury 10-tahun mengurangi daya tarik relatif Dolar AS (yield premium), memicu aliran rotasi modal kembali ke mata uang ekonomi maju lain yang memiliki prospek pertumbuhan atau imbal hasil menarik," jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Wahyu menilai dolar Australia menjadi pilihan paling prospektif bagi investor berbasis rupiah. Setelah AUD, poundsterling menjadi pilihan berikutnya.

Menurut dia, AUD memiliki karakter sebagai mata uang dengan sensitivitas tinggi terhadap sentimen risiko. Ketika tekanan yield obligasi AS mereda dan likuiditas global melonggar, aliran dana berpotensi kembali masuk ke komoditas dan aset yang berorientasi pada pertumbuhan global.

Poundsterling juga dinilai menarik karena Bank of England (BoE) cenderung mempertahankan suku bunga relatif tinggi lebih lama dibandingkan Bank Sentral Eropa (ECB). Kondisi tersebut ditopang oleh inflasi sektor jasa Inggris yang masih persisten sehingga menjaga daya tarik imbal hasil GBP.

Sementara itu, euro dinilai masih memiliki ruang penguatan, tetapi katalisnya lebih banyak berasal dari pelemahan dolar AS dibandingkan kekuatan fundamental ekonomi zona euro. Meski EUR/USD telah rebound, Wahyu menilai pertumbuhan ekonomi zona euro masih rentan terhadap perlambatan sektor manufaktur.

Untuk dolar AS sendiri, Wahyu menilai akumulasi agresif saat ini kurang optimal untuk dilakukan karena USD masih berada dalam fase tekanan likuiditas dan tren pelemahan mingguan.

"Dolar AS lebih cocok untuk alokasi defensif bertahap saat terjadi pullback teknikal," ujarnya.

Wahyu memperkirakan DXY masih berpotensi melanjutkan tren pelemahan hingga akhir 2026. Secara teknikal, support DXY berada di 97,20-96,60, dengan support kuat jangka menengah di sekitar 95,30. Sementara resistance berada di 100,50-101,97.

Untuk EUR/USD, diproyeksi berada di 1,1545-1,1390, sedangkan resistance berada di 1,1850-1,2055.

Adapun GBP/USD berada di sekitar 1,3641 dengan momentum pembalikan arah mingguan yang cukup solid. Support berada di 1,3410-1,3240, sementara resistance berada di 1,3760-1,3930.

Sementara itu, AUD/USD berada di sekitar 0,7158 seiring pemulihan sentimen risiko global. Level support berada di 0,6950-0,6845, sedangkan resistance berada di 0,7250-0,7350.

Baca Juga: IHSG Menguat 0,37% ke 6.525, Top Gainers LQ45: AMRT, BBNI, BUMI, Jumat (21/8)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×