Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (USD) cenderung menguat seiring mulai tertekannya dolar AS dalam jangka pendek.
Melansir Trading Economics pada Rabu (1/4) pukul 14.11 WIB, pasangan USD/JPY tercatat di level 158,37 atau turun 0,22% secara harian dan melemah 0,67% dibandingkan sepekan lalu. USD/CNY juga turun 0,19% ke level 6,87 dalam sehari dan melemah 0,33% secara mingguan. Sama halnya dengan USD/KRW yang turun 0,48% menjadi 1.499 dan melemah 0,26% dalam sepekan.
Di sisi lain, USD/IDR justru menguat 0,12% ke level 16.969 dan naik 0,71% secara mingguan.
Baca Juga: Pendapatan Bukit Asam (PTBA) Turun Tipis 0,27% Sepanjang 2025
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono menilai dolar AS berada dalam fase "stronger for longer", tetapi mulai menunjukkan tanda-tanda jenuh beli (overbought).
"Penguatan JPY, CNY, dan KRW mengindikasikan adanya aksi ambil untung (profit taking) di pasar Asia Utara, tekanan terhadap USD yang sudah overbought, dan didukung harapan meredanya krisis geopolitik Timur Tengah," kata Wahyu kepada Kontan, Rabu (1/4/2026).
Meski demikian, ia menilai rupiah sulit menguat, salah satunya dipengaruhi risiko fiskal domestik termasuk potensi kenaikan BBM dampak kenaikan harga minyak dunia.
Secara teknikal, Wahyu menilai USD masih dalam tren bullish jangka pendek, meskipun indeks dolar (DXY) masih tertahan di bawah di level psikologis yaitu 100.
Untuk proyeksi kuartal II, Wahyu memperkirakan USD/JPY bergerak di rentang 150,00 - 162,00, dipengaruhi kebijakan Bank of Japan (BoJ) dalam menjaga stabilitas yen.
Sementara itu, USD/CNY diproyeksikan berada di antara 6,50 - 7,00 seiring pengaruh kebijakan People’s Bank of China (PBOC) dan pemulihan perdagangan China.
Adapun, USD/KRW diperkirakan bergerak pada kisaran 1.410 - 1.600 karena mata uang ini sensitif terhadap siklus teknologi maupun cip.
Baca Juga: United Tractors (UNTR) Memulai Periode Buyback Saham Senilai Rp 2 Triliun
Terakhir, USD/IDR diproyeksikan berada di rentang 16.800 - 17.200 dengan volatilitas yang masih tinggi akibat faktor risiko fiskal domestik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













