Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) memutuskan menahan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober, Rabu (21/10). Langkah ini diambil BI di tengah tekanan inflasi dan rupiah yang menembus Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M Rizal Taufikurahman, mengatakan penguatan rupiah kemungkinan akan terbatas dalam jangka pendek.
Meski demikian, keputusan BI untuk menahan suku bunga dianggap masih proporsional karena inflasi September 3,28% berada dalam sasaran dan inflasi inti turun menjadi 2,84%.
“Kenaikan suku bunga acuan diperlukan jika arus keluar modal dan risiko inflasi impor membesar,” jelas Rizal kepada Kontan, Rabu (21/10/2026).
Selain kebijakan suku bunga, Rizal menyebut BI juga perlu memperkuat intervensi di pasar valuta asing (valas) dan instrumen lindung nilai untuk meredam volatilitas rupiah.
Baca Juga: IHSG dan Bitcoin Kompak Menguat, Investor Diminta Waspadai Volatilitas Pasar
Benar saja, dari sisi stabilisasi nilai tukar, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam RDG kali ini bilang, BI akan meningkatkan daya tarik investasi dalam rupiah agar investor asing tetap menempatkan dananya di Indonesia.
Salah satu langkah yang diambil yakni mengoptimalkan intervensi valuta asing melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri serta transaksi spot dan DNDF di pasar domestik.
BI juga meningkatkan insentif DNDF Lindung Nilai untuk transaksi yang mendasari pendanaan luar negeri, meliputi aliran masuk investasi portofolio, pinjaman luar negeri oleh perbankan, dan investasi langsung asing atau foreign direct investment (FDI).
Untuk tenor enam bulan, pengurangan premi ditingkatkan dari 25% menjadi 40%. Adapun untuk tenor 12 bulan, pengurangan premi naik dari 30% menjadi 45%. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan daya tarik instrumen lindung nilai sekaligus mendukung aliran modal asing ke pasar keuangan domestik.
Selain DNDF, BI melanjutkan insentif untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional bagi transaksi pendanaan luar negeri. Pengurangan premi diberikan sebesar 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk tenor enam bulan, dan 25% untuk tenor 12 bulan. Insentif juga diberikan untuk transaksi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara mitra.
Destry mengungkapkan insentif lindung nilai yang diterapkan sejak Juni 2026 telah menarik modal asing sebesar US$ 9,9 miliar hingga 20 Oktober 2026.
Di sisi lain, upaya menjaga stabilitas rupiah tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan moneter. Rizal menekankan pentingnya perbaikan kredibilitas fiskal dan tata kelola pasar untuk memulihkan kepercayaan investor.
Lebih lanjut, tekanan terhadap rupiah juga datang dari sentimen eksternal dan domestik. Pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak, serta arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,94% ke 5.328 pada Rabu (21/10/2026), AKRA, ICBP, BBTN Top Gainers LQ45
Dari dalam negeri, usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) dari Emerging Market menjadi Standalone Market turut menambah tekanan terhadap persepsi risiko investasi. Menurut Rizal, persoalan tersebut berkaitan dengan transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan di pasar modal.
Karena itu, pemulihan kepercayaan investor membutuhkan bukti pembenahan yang terukur, bukan sekadar respons kebijakan jangka pendek.
Di tengah kondisi tersebut, Rizal memperkirakan nilai tukar rupiah hingga akhir 2026 berada pada kisaran Rp 17.700-Rp 18.200 per dolar AS. Rabu (21/10), rupiah spot ditutup pada level Rp 18.022 per dolar AS pada akhir perdagangan, melemah 0,17% dari sehari sebelumnya.
Dengan proyeksi tersebut, risiko rupiah bertahan lebih lama di atas level Rp 18.000 per dolar AS masih cukup besar. Dalam skenario tekanan yang lebih berat, rupiah bahkan berpotensi melemah ke kisaran Rp 18.300-Rp 18.500 per dolar AS.
“Penguatan memerlukan meredanya tekanan global dan pulihnya kepercayaan investor. Proyeksi ini bersyarat pada perkembangan tersebut,” pungkas Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














