kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 0   0   %

Peluang Koreksi IHSG ke Level 5.100-5.200 Masih Terbuka dalam Jangka Pendek


Senin, 08 Juni 2026 / 17:50 WIB
Peluang Koreksi IHSG ke Level 5.100-5.200 Masih Terbuka dalam Jangka Pendek
ILUSTRASI. IHSG Melemah-Suasana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)

Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham yang tercermin dalam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih tertekan hebat. Hingga akhir perdagangan Senin (8/6/2026), indeks anjlok 4,52% ke level 5.342,13. Jika diakumulasi sejak awal tahun, pergerakan indeks sudah mengalami pelemahan 38,22%. 

Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto memperkirakan IHSG di level saat ini sudah cukup oversold. Dalam skenario dasar, Rully melihat ruang koreksi tambahan masih ada, tetapi cenderung terbatas di area sekitar 5.100–5.200 sebagai downside risk jangka pendek, kecuali terjadi eskalasi baru di perang Amerika Serikat dan Iran atau koreksi tajam lagi di bursa global.

"Volatilitas sangat tinggi. Level seperti 5.300–5.400 lebih cocok diperlakukan sebagai area trading buy secara bertahap, bukan all?in, dengan disiplin cut loss dan fokus di saham berfundamental kuat serta likuid atau big caps yang terkena jual panik," kata Rully kepada Kontan, Senin (8/6/2026).

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Masih Fluktuatif pada Selasa (9/6), Ini Rekomendasi Analis

Disamping itu, Rully juga menanggapi terkait potensi level IHSG apabila dana asing terus keluar dan pasar hanya ditopang oleh investor domestik. Rully bilang istilah 'IHSG tanpa asing' kurang tepat digunakan. Menurutnya, investor asing dalam porsi berapa pun tetap akan aktif bertransaksi di pasar.

"Jadi pertanyaannya bukan ‘IHSG tanpa asing itu berapa’, melainkan di level berapa valuasi kita cukup menarik sehingga investor domestik dan asing sama-sama mulai melihat Indonesia sebagai buy lagi," ucap Rully.

Rully berpendapat valuasi pasar saham Indonesia saat ini sebenarnya sudah cukup menarik. Namun, minat investor masih tertahan oleh tingginya ketidakpastian kebijakan.

Rully juga menerangkan saat ini pelaku pasar tidak hanya mencermati satu kebijakan tertentu, melainkan kombinasi berbagai faktor yang berpotensi memengaruhi arah perekonomian dan pasar keuangan. 

Beberapa di antaranya adalah kemampuan pemerintah menjaga defisit anggaran dan kebutuhan pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN), arah bauran kebijakan fiskal dan moneter untuk menstabilkan nilai tukar rupiah serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN), hingga kejelasan reformasi pasar modal di tengah berbagai rencana perubahan regulasi dan struktur kelembagaan.

"Semua itu wajar menimbulkan pertanyaan di kalangan investor, apalagi di tengah gejolak global," tambah Rully.

Namun, Rully juga mengingatkan bahwa otoritas fiskal dan moneter sudah menunjukkan niat untuk berkoordinasi lebih erat. "Kalau komunikasi kebijakan bisa dibuat lebih konsisten dan forward looking, sebagian besar policy uncertainty ini justru bisa berubah menjadi katalis positif ke depan," tutupnya.

Baca Juga: Temukan Sumber Daya Tambahan, Simak Prospek Merdeka Gold (EMAS)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

×