kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Digitalisasi kredit topang kinerja BRI


Selasa, 30 Januari 2018 / 08:20 WIB
Digitalisasi kredit topang kinerja BRI


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sepanjang tahun lalu terhitung ciamik. Perbankan pelat merah ini berhasil meraup laba bersih konsolidasi Rp 29,04 triliun, melesat 10,7% dibanding tahun 2016.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang kenaikan penyaluran kredit yang tumbuh 11,4% menjadi Rp 739,3 triliun. Penyaluran kredit BBRI didominasi oleh kredit mikro sebesar Rp 239,5 triliun.

Sementara kredit korporasi hanya Rp 187,4 triliun. Ini membuat BBRI juga mampu mempertahankan level kredit macet atawa non performing loan (NPL) di level 2,2%.  

Analis Ciptadana Securities Erni Marsella Siahaan dalam riset 25 Januari mengatakan, pinjaman kredit mikro BBRI naik 13% di tahun lalu. "Tren ini bagus, karena BBRI bisa meningkatkan porsi di kredit mikro sambil membatasi kredit korporasi yang punya margin lebih kecil dan NPL lebih tinggi," tulis dia.

Analis Semesta Indovest Aditya Perdana Putra menambahkan, level NPL BBRI lebih rendah ketimbang sektor perbankan lainnya yang masih di kisaran 3%. Likuiditas bank ini juga masih bagus. "Tingkat loan to deposit ratio (LDR) terlihat turun. Artinya deposito BRI terus berkembang," jelas dia, Senin (29/1).

Analis Bahana Securities Henry Wibowo dalam risetnya 25 Januari memaparkan, deposito emiten ini naik 11,5% menjadi Rp 841 triliun. Ini membuat  rasio pinjaman terhadap dana pihak ketiga BBRI di akhir 2017 turun dari 87,9% jadi 87,8%. Sementara dana murah alias current account and saving account (CASA) bank ini juga turun tipis, menjadi 59%.

Tahun ini, analis yakin BBRI akan terus menggenjot pertumbuhan kredit. Aditya bilang, BBRI bakal melakukan screening dari nasabah yang memiliki postur kredit loyal. "Jadi BRI lebih fokus pada nasabah yang naik ke kelas komersial," jelas dia.

Kinerja positif

Memang, sepanjang tahun lalu, BBRI mencatatkan ada 56.154 debitur KUR mikro yang naik kelas ke kredit komersial. Dengan ekonomi Indonesia yang membaik, potensi BBRI menambah jumlah nasabah kredit baru cukup tinggi. Volume pinjamannya juga makin gemuk.

Guna mendorong kredit usaha rakyat (KUR), BBRI menyiapkan sistem digitalisasi proses pinjaman. Produk digital banking KUR ini dinamakan BRISpot, yang dapat membuat proses pinjaman lebih cepat, selesai dalam satu hari. 

Dengan digitalisasi. maka penyaluran KUR bisa tumbuh. "BBRI juga bisa mempertahankan efisiensi operasionalnya dengan rasio lebih rendah," tambah Erni. Dengan demikian Erni memprediksi laba bersih BBRI di 2018 mencapai Rp 31,54 triliun dan kembali naik menjadi Rp 34,92 triliun pada 2019.

Demi kinerja yang lebih positif, BBRI juga berharap pengembalian aset NPL (recovery rate write off) bisa mencapai 60%. Tahun lalu, jumlah aset hapus buku (write off) yang berhasil dikembalikan sebesar 53%.

"Recovery write off BRI bisa berjalan seiring lancarnya bisnis dan ekonomi nasional serta membaiknya basis kredit," jelas Aditya. Salah satu penyebab performa bagus NPL BRI karena hapus buku kredit bermasalah mencapai Rp 9,5 triliun.

Atas pertimbangan itu, Aditya menyarankan beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.080 per saham. Sedangkan Erni mempertahankan rekomendasi hold dengan target harga Rp 4.100 per saham. Sedangkan Henry masih memberi rekomendasi BBRI beli dengan target harga sebesar Rp 4.530 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×