kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45995,71   -11,93   -1.18%
  • EMAS988.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.20%
  • RD.CAMPURAN 0.04%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.12%

Dibayangi Kenaikan Suku Bunga, Bagaimana Prospek Pasar Obligasi Indonesia?


Rabu, 18 Mei 2022 / 14:13 WIB
Dibayangi Kenaikan Suku Bunga, Bagaimana Prospek Pasar Obligasi Indonesia?
ILUSTRASI. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) menekan pasar obligasi Indonesia.


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan The Fed menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) menekan pasar obligasi Indonesia dan pasar obligasi korporasi. Namun, analis percaya investor domestik masih menjadi penyokong kinerja obligasi Indonesia untuk tumbuh positif.

Mengutip laman Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), Indobex Government Total Return yang menggambarkan imbal hasil obligasi pemerintah turun 3,29% sejak awal tahun hingga Rabu (18/5). Sedangkan secara tahunan atau year on year (yoy) naik sebesar 1.89%.

Sementara, imbal hasil obligasi korporasi yang tercermin dalam Indobex Corporate Total Return tumbuh 0,12% di periode yang sama dan secara tahunan atau year on year (yoy) naik sebesar 6,81%.

Head of Fixed Income Bank Negara Indonesia (BNI) Fayadri mengatakan, investasi dalam obligasi, khususnya obligasi pemerintah, saat ini masih merupakan salah satu pilihan investasi yang menarik.

"Dengan tingkat imbal hasil yang sudah cukup tinggi seperti sekarang serta tingkat risiko yang relatif lebih rendah dibanding pilihan investasi lainnya misalnya seperti obligasi korporasi swasta atau saham, investor masih dapat menjadikan obligasi pemerintah RI sebagai salah satu pilihan," kata Fayadri kepada Kontan.co.id, Rabu (18/5).

Baca Juga: Level CDS Indonesia Tinggi, Risiko Investasi Meningkat

Fayadri mengatakan sepanjang tahun ini pasar obligasi akan dibayangi perubahan kebijakan suku bunga, baik secara global maupun domestik. Sehingga rasanya akan sangat berat untuk bisa mendapatkan cuan yang sangat besar dari capital gain.

Namun, kecermatan dalam mengamati dinamika perubahan kebijakan suku bunga serta kecepatan untuk keluar masuk pasar dapat membantu investor untuk memperoleh cuan.

Menurut Fayadri, saat ini SUN benchmark tenor 10 tahun masih menjadi seri yang likuid di pasar, sehingga dapat dipertimbangkan oleh para investor yang ingin cepat keluar masuk pasar untuk mengoptimalkan potensi keuntungan.

"Untuk SBN tenor 10 tahun tingkat imbal hasilnya tahun ini diperkirakan akan berada di kisaran 7.30%," ujar Fayadri

Menurut Fayadri, secara keseluruhan sepanjang bulan Mei ini asing masih keluar dari pasar SUN. Sampai 13 Mei 2022, asing mencatatkan net-sell sebesar Rp 16,63 triliun sehingga porsi kepemilikan asing sekarang tinggal 16,66%.

Apabila dibandingkan dengan posisi akhir tahun lalu, nominal kepemilikan asing sudah berkurang sebesar Rp 80,12 triliun atau porsi kepemilikannya turun sebesar 2,39%.

Hal ini terutama disebabkan kenaikan yield US Treasury sebagai dampak perubahan kebijakan suku bunga yang diambil oleh The Fed dalam merespon tingginya tekanan inflasi.

Baca Juga: Lelang SBSN Kembali Ramai Peminat, Tekanan di Pasar Obligasi Mereda

Fayadri mengatakan, dalam beberapa kali pelaksanaan lelang SUN dan SBSN di kuartal ke II-2022 sempat mengalami undersubscribe dibanding target indikatif. Namun, secara keseluruhan total penawaran yang disampaikan investor pada pelaksanaan lelang tahun ini masih jauh lebih tinggi dibanding total target indikatif yang ditetapkan.

Bahkan pada lelang SBSN Selasa (17/5), total penawaran yang masuk mencapai 189% dari target indikatif.

Hal ini dapat diartikan bahwa investor masih tertarik berinvestasi pada SBN, meskipun investor asing banyak yang keluar namun di sisi lain terdapat dukungan yang bagus dari investor domestik.

Fayadri menyampaikan, saat ini Bank Sentral AS masih agresif menaikkan suku bunga. Sedangkan BI pun sepertinya juga mulai bersiap untuk melakukan penyesuaian terhadap tekanan inflasi domestik.

Kondisi ini secara teori akan mendorong investor untuk meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi dari obligasi. Namun beberapa rilis data ekonomi yang memberikan gambaran positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia dapat menjadi sentimen positif untuk menarik investor asing.

"Seperti rilis data neraca perdagangan yang ditanggapi positif investor sehingga dapat mendorong kenaikan harga obligasi. Selain itu perkembangan positif dari penanganan pandemi Covid-19 juga dapat menjadi sentimen positif yang bisa menjadi penarik investor," imbuh Fayadri.

Baca Juga: Hasil Lelang Greenshoe Option SBSN Hari Ini Hanya Serap Rp 3,29 Triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×