Reporter: Alya Fathinah | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kesepakatan gencatan senjata awal antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meredakan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai menekan harga minyak dunia.
Negosiasi yang menghasilkan sejumlah poin kesepahaman, termasuk rencana pertemuan lanjutan pada 10 April 2026, memicu penurunan tajam harga minyak seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan global.
Melansir data Trading Economics pukul 16.25 WIB, harga minyak jenis WTI dalam sehari terkoreksi 15,96% menjadi US$ 95,09 per barel, sedangkan minyak Brent secara harian turun 14,08% menjadi US$ 93,97 per barel.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas Kamis (9/4), Ini Proyeksi dan Sentimen
Girta Putra Yoga, Research and Development ICDX menilai penurunan tajam harga minyak mencerminkan meredanya sentimen bullish dalam jangka pendek.
Ia menjelaskan, pelemahan tersebut lebih merupakan koreksi sesaat akibat turunnya premi risiko geopolitik yang sebelumnya mendorong kepanikan pasar.
"Sementara untuk melihat seberapa kuat dan kredibel pengaruh dari kesepakatan ini masih tergantung dari perkembangan situasi di pasar, terutama pertemuan langsung antara AS dan Iran yang dijadwalkan pada 10 April mendatang," ujar Girta kepada Kontan, Rabu (8/4/2026).
Namun, Girta menilai, tenggat waktu dua pekan untuk mencapai perdamaian yang lebih konkret tergolong tidak realistis untuk langsung memulihkan rantai pasok global.
Ia mencontohkan, meski jalur strategis seperti Selat Hormuz kembali dibuka, hal itu tidak otomatis membuat pelaku industri pelayaran berani mengambil risiko dalam waktu singkat.
"Di sisi lain, kapal-kapal yang sebelumnya tertahan berpotensi menimbulkan antrean baik untuk keluar maupun masuk, sehingga distribusi tetap terganggu," kata Girta.
Selain faktor logistik, pemulihan di sisi produksi juga diperkirakan membutuhkan waktu sebelum kembali normal.
Senada, Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf menyebut, deeskalasi konflik memang memberikan sentimen positif terhadap stabilitas pasokan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong pemulihan secara cepat.
Menurutnya, periode dua minggu belum memadai untuk memperbaiki gangguan rantai pasok global secara menyeluruh.
"Dengan adanya deeskalasi, setidaknya kekhawatiran terhadap ketatnya pasokan mulai berkurang," ujar Alwi.
Baca Juga: Mengintip Peluang Keputusan MSCI Usai FTSE Russell Pertahankan Status Saham Indonesia
Ia menambahkan, meski gencatan senjata berpotensi menahan kenaikan harga, pergerakan minyak dalam jangka pendek masih akan cenderung konsolidatif.
"Harga minyak kemungkinan tidak akan sepanas sebelumnya, tetapi belum tentu terus turun karena pasar masih menunggu perkembangan lanjutan," kata Alwi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













