Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Investasi lanjutan Danantara ke pasar saham Indonesia bisa menjadi katalis untuk Bursa Tanah Air. Namun, aksi sovereign wealth fund (SWF) Indonesia itu dinilai belum cukup mampu untuk memulihkan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengungkapkan, Danantara mulai membeli saham secara bertahap di tengah koreksi IHSG pasca pengumuman MSCI yang membuka konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia.
Hari ini, IHSG ditutup naik 0,95% ke level 5.439,25 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (23/10/2026). Sejak awal tahun, IHSG sudah terkoreksi 37,10% year to date (YTD).
Baca Juga: Pendapatan PTBA Diproyeksi Melesat Didukung Logistik Kuat, Cek Rekomendasi Sahamnya
Net sell asing tercatat keluar Rp 1,62 triliun di pasar reguler hari ini. Sejak awal tahun, asing sudah keluar Rp 120,57 triliun di pasar reguler.
Pembelian Danantara itu disebut difokuskan pada saham dengan valuasi menarik, fundamental kuat, serta prospek pertumbuhan jangka panjang.
Sayangnya, saat dikonfirmasi Kontan pada Jumat (23/10/2026), Danantara belum memberikan penjelasan terkait sektor maupun emiten yang dibidik kala dana tersebut disuntikan ke pasar modal.
Riset BRI Danareksa Sekuritas mengatakan, Danantara disebut menyiapkan potensi tambahan dana US$1 miliar atau sekitar Rp 18 triliun hingga akhir 2026 untuk investasi di pasar modal.
Sebelumnya, Danantara telah mengalokasikan sekitar US$3 miliar untuk investasi saham dan obligasi, baik di dalam maupun luar negeri.
“Dengan rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar Rp16,23 triliun pada 12-16 Oktober 2026, tambahan dana Rp18 triliun setara sekitar 1,1 kali nilai transaksi harian, sehingga belum tentu cukup menopang IHSG secara berkelanjutan,” ujar riset tanggal 22 Oktober 2026 itu.
Co-Founder Alphagate Capital dan Former Chief Indonesia Strategist of J.P. Morgan, Henry Wibowo mengatakan, rencana investasi Danantara merupakan katalis positif bagi pasar modal Indonesia, terutama di tengah volatilitas dan tekanan arus dana asing.
Dana sekitar Rp 18 triliun dinilai cukup signifikan untuk meningkatkan likuiditas, meski dampak jangka panjang tetap bergantung pada disiplin alokasi, valuasi, dan fundamental emiten.
Baca Juga: PP (PTPP) Ungkap Progres Proyek Kementerian PU Senilai Rp 286,66 Miliar
Sektor yang berpotensi dilirik antara lain perbankan, telekomunikasi, infrastruktur, energi, dan hilirisasi.
“BUMN kemungkinan menjadi prioritas awal, tetapi emiten swasta dengan fundamental, tata kelola, dan prospek pertumbuhan yang baik juga berpeluang dipertimbangkan,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).
Henry bilang, pasar juga berharap dana pensiun negara lainnya, seperti BPJS Ketenagakerjaan, dapat meningkatkan alokasi investasinya ke pasar saham dalam waktu dekat.
“Jika dilakukan secara prudent, hal ini dapat memperkuat basis investor domestik dan mengurangi ketergantungan pasar terhadap dana asing,” katanya.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy menjelaskan, masuknya Danantara bisa membantu meredam tekanan jual, dan meningkatkan kepercayaan investor.
“Namun, dana Rp 18 triliun belum cukup untuk menopang IHSG secara berkelanjutan jika aksi jual asing terus berlangsung,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/10).
Danantara pun diperkirakan akan lebih memprioritaskan saham BUMN berfundamental kuat, terutama sektor perbankan, telekomunikasi, energi, dan infrastruktur.
“Namun, saham swasta yang memiliki prospek pertumbuhan dan valuasi menarik juga berpotensi dipertimbangkan,” ungkapnya.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama sepakat bahwa rencana investasi Danantara menjadi sentimen positif bagi pasar modal domestik, terutama di tengah tekanan IHSG.
Dampak dari aksi sovereign wealth fund Tanah Air itu dinilai juga cukup signifikan terhadap sentimen pasar. Namun, realisasinya kemungkinan bertahap dan bergantung pada strategi alokasi investasi.
Rencana investasi Danantara di pasar modal memang berpotensi menjadi katalis positif, tetapi bukan jaminan pemulihan pasar secara instan.
“Sektor yang berpotensi dicermati antara lain perbankan, energi, telekomunikasi, dan infrastruktur, baik perusahaan BUMN maupun swasta,” ujarnya kepada Kontan, Jumat (23/10/2026).
Dalam jangka pendek, pasar modal berserta saham-saham yang diserok Danantara nantinya berpotensi mendapat sentimen positif melalui peningkatan permintaan dan kepercayaan investor.
Namun, Henry mengingatkan, kenaikan berkelanjutan tetap ditentukan oleh pertumbuhan laba, arus kas, kualitas neraca, tata kelola, dan valuasi.
“Risikonya antara lain perlambatan ekonomi, tekanan rupiah, perubahan suku bunga, volatilitas pasar global, serta keputusan investasi yang tidak sepenuhnya berbasis komersial,” ungkapnya.
Budi melihat, keberlanjutan penguatan saham-saham incaran Danantara nantinya tetap ditentukan oleh pertumbuhan laba, valuasi, dividen, dan prospek bisnis.
”Risiko utamanya adalah tekanan jual asing, ketidakpastian MSCI, pelemahan rupiah, serta kemungkinan harga saham naik terlalu cepat akibat spekulasi,” tuturnya.
Investor pun sebaiknya tidak otomatis mengikuti pembelian Danantara. Sebab, saham yang menarik bagi investor institusi belum tentu sesuai dengan profil risiko investor ritel, apalagi jika harga sudah naik tinggi.
Baca Juga: Monetisasi Data Solid, Prospek AI Jadi Bonus Valuasi Saham ISAT
Alhasil, investor ritel disarankan untuk tetap memprioritaskan faktor fundamental, valuasi, likuiditas, dan tata kelola perusahaan.
“Pembelian dapat dilakukan secara bertahap dan hindari mengejar saham yang melonjak hanya karena rumor pembelian Danantara,” ungkapnya.
Elandry bilang, prospek saham-saham terkait juga tetap akan bergantung pada fundamental dan realisasi katalis bisnisnya.
Sektor perbankan misalnya, ditopang pertumbuhan kredit dan profitabilitas. Lalu, sektor telekomunikasi oleh kebutuhan data dan efisiensi operasional. Sedangkan, sektor energi dipengaruhi harga komoditas dan perkembangan proyek.
Sentimen pemberatnya meliputi tekanan capital flow asing, ketidakpastian isu MSCI, pelemahan rupiah, dan risiko perlambatan ekonomi.
Bagi investor ritel, peluang tetap terbuka, tetapi sebaiknya tidak membeli saham hanya berdasarkan spekulasi bahwa emiten tersebut akan masuk portofolio Danantara.
“Valuasi wajar, kualitas laba, arus kas, dan likuiditas saham tetap menjadi pertimbangan utama,” ungkapnya.
Untuk horizon investasi 6-12 bulan, investor bisa mencermati saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).
BMRI memiliki katalis dari pertumbuhan kredit, profitabilitas, dan potensi dividen, dengan target harga indikatif di level Rp 5.100 per saham.
TLKM berpotensi ditopang pertumbuhan bisnis data dan efisiensi operasional, dengan target harga indikatif di Rp 3.300 – Rp 3.400 per saham.
Sementara itu, ANTM menawarkan eksposur terhadap emas, nikel, dan perkembangan hilirisasi, dengan target harga indikatif di level Rp 4.000 per saham. Namun, ANTM memiliki risiko volatilitas yang lebih tinggi karena sensitif terhadap harga komoditas.
“Target harga tersebut perlu divalidasi terhadap harga pasar dan valuasi terkini sebelum dijadikan rekomendasi resmi,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Harga Minyak US$ 100 per Barel, Cek Proyeksi Pekan Depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














