Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rantai pasok logistik yang solid di tengah cuaca ekstrem serta menguatnya harga batubara siap menjadi katalis pendorong lonjakan pendapatan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) pada kuartal ketiga tahun ini.
Analis MNC Sekuritas Raka Junico memproyeksikan, perusahaan mampu mencetak pertumbuhan kinerja keuangan yang impresif berkat kombinasi pemulihan volume penjualan dan kenaikan harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP).
Pendapatan emiten pelat merah ini pada kuartal III 2026 diestimasi melesat 29% secara yoy atau naik 15% secara kuartalan menjadi Rp 13,7 triliun.
Baca Juga: Insentif PPN Nataru Jadi Katalis Garuda Indonesia (GIAA), Ini Saran Analis
Kenaikan pendapatan tersebut ditopang oleh volume penjualan batubara yang diperkirakan menembus 12,3 juta ton pada periode Juli hingga September 2026.
Capaian ini sejalan dengan ASP yang terdongkrak 27% secara tahunan ke level Rp 1,1 juta per ton atau sekitar US$ 62,6 per ton.
Penopang utama profitabilitas perusahaan juga berasal dari besarnya porsi ekspor di tengah harga indeks batubara ICI 3 yang bertengger kuat di level rata-rata US$ 86,6 per ton.
Sepanjang paruh pertama 2026, volume ekspor PTBA menyentuh 10,3 juta ton atau menguasai 49% dari total penjualan.
"Rantai pasok PTBA yang solid akan memperkuat daya tawarnya dengan para pedagang dan pembeli, mengingat beberapa tambang di Kalimantan menghadapi gangguan akibat penurunan tingkat air yang signifikan," terang Raka dalam riset terbarunya, (22/10/2026).
Kendati fenomena El Niño membayangi aktivitas pertambangan nasional, debit air Sungai Musi yang menjadi urat nadi logistik perusahaan tetap terjaga.
Kondisi ini memastikan kelancaran alur pengiriman menuju terminal Stasiun Kertapati yang berkapasitas 8 juta ton per tahun.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Harga Minyak US$ 100 per Barel, Cek Proyeksi Pekan Depan
Di sisi lain, insiden tabrakan kereta api di jalur Tarahan (kapasitas 27,5 juta ton per tahun) pada pertengahan Oktober dinilai berdampak, mengingat perbaikannya rampung dalam empat hari dan operasional ditargetkan kembali pulih 100% pada pekan keempat Oktober 2026.
Dari sisi pergerakan pasar, saham PTBA sempat dibayangi oleh risiko overhang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akibat konsultasi Standalone Market yang memicu aksi jual panik.
Namun, akumulasi investor luar negeri justru memperlihatkan kepercayaan diri yang tinggi terhadap fundamental perusahaan, dengan catatan beli bersih (net buy) mencapai Rp 1,2 triliun hingga September 2026.
"Untuk PTBA, total kepemilikan asing (di luar CP) mencapai 13% dari total saham beredar pada September 2026, naik dari 9,4% pada Januari 2026," urai Raka.
Sebagai perisai tambahan di tengah turbulensi pergerakan indeks, emiten tambang batubara ini menawarkan potensi imbal hasil dividen yang menarik sebesar 6,4%.
Prospek makroekonomi juga masih berpihak pada perusahaan, mengingat permintaan batubara global diproyeksikan tetap tangguh setidaknya hingga kuartal I 2027.
Tren ini didorong oleh aktivitas penumpukan stok menjelang musim dingin serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi membatasi pasokan gas alam cair (LNG).
Mempertimbangkan fundamental logistik yang kuat serta proyeksi pertumbuhan laba bersih sebesar 9% secara tahunan pada 2027 mendatang, Raka mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PTBA dengan target harga Rp 3.400 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














