kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.540.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.097   17,00   0,09%
  • IDX 5.439   51,35   0,95%
  • KOMPAS100 703   6,01   0,86%
  • LQ45 547   2,49   0,46%
  • ISSI 186   3,05   1,66%
  • IDX30 306   1,13   0,37%
  • IDXHIDIV20 403   3,67   0,92%
  • IDX80 81   0,56   0,70%
  • IDXV30 112   1,52   1,37%
  • IDXQ30 102   0,58   0,58%

Rupiah Tertekan Harga Minyak US$ 100 per Barel, Cek Proyeksi Pekan Depan


Jumat, 23 Oktober 2026 / 17:36 WIB
Rupiah Tertekan Harga Minyak US$ 100 per Barel, Cek Proyeksi Pekan Depan
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah melemah (ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah menjelang akhir bulan Oktober masih dibayangi tekanan eksternal dan domestik di tengah lonjakan harga minyak dunia serta meningkatnya risiko fiskal.

Melansir Bloomberg Jumat (23/10), kurs rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,11% secara harian menjadi Rp 18.080 per dolar Amerika Serikat (AS).

Dalam sepekan, kurs rupiah spot melemah 0,29% dari posisi Rp 18.027 per dolar AS pada Jumat (16/10) pekan lalu.

Kurs rupiah Jisdor hari ini melemah 0,12% secara harian menjadi Rp 18.069 per dolar AS. Dalam sepekan, kurs rupiah Jisdor melemah 0,9% dari posisi Rp 18.052 per dolar AS pada Jumat pekan lalu.

Baca Juga: Gangguan Pasokan di Selat Hormuz Dorong Harga Minyak Dunia Naik Sepekan

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan rupiah pekan ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia yang berada di kisaran US$ 100 per barel, bersamaan dengan lonjakan harga pangan, menimbulkan tekanan ganda (double shock) terhadap perekonomian nasional.

Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui kebutuhan subsidi bahan bakar minyak (BBM), liquefied petroleum gas (LPG), serta kompensasi energi.

Sebagai negara pengimpor bersih minyak (net oil importer), kenaikan harga minyak mentah internasional di atas asumsi makro APBN dapat memperbesar kebutuhan belanja energi pemerintah.

Setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) juga berpotensi memperlebar defisit APBN.

“Dalam hal tersebut pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit (fiscal space) yaitu menahan harga energi domestik yang beresiko memperlebar defisit APBN atau menyesuaikan harga energi domestik tetapi akan berdampak terhadap inflasi sehingga akan memberatkan Masyarakat,” ujar Ibrahim, Jumat (23/10/2026).

Kondisi itu, berdampak terhadap tekanan nilai tukar dan pembiayaan utang karena tingginya impor energi meningkatkan kebutuhan devisa dolar AS, yang menekan nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Harga Minyak Dunia Turun dari Level Tertinggi Lima Bulan, Brent ke US$ 108,41

Pelemahan mata uang berisiko memperbesar biaya pembayaran imbal hasil (yield) dan pokok utang luar negeri, membuat daya beli masyarakat menurun terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah, yang porsi pengeluarannya bertumpu pada kebutuhan dasar.

Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi menyusul serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi.

Ia menyebut Saudi Aramco pada Kamis memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, yang berada di kawasan Teluk dekat Bahrain, di tengah meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. 

Eskalasi konflik tersebut menambah ketidakpastian terhadap pasokan minyak dunia. Jika gangguan pasokan berlanjut dan harga minyak bertahan tinggi, tekanan terhadap kebutuhan impor energi serta stabilitas rupiah berpotensi berlanjut.

Dengan sejumlah faktor di atas, untuk pekan depan, Ibrahim memproyeksikan rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.900 hingga Rp 18.250 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×