kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

Dana Kelolaan Reksadana Susut Rp 40 Triliun, 10 MI Kuasai 76,4% Pasar


Senin, 12 Oktober 2026 / 15:58 WIB
Dana Kelolaan Reksadana Susut Rp 40 Triliun, 10 MI Kuasai 76,4% Pasar
ILUSTRASI. Ilustrasi reksadana, uang rupiah (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana kelolaan industri reksadana menyusut Rp 40,17 triliun menjadi Rp 672,90 triliun per September 2026 dibandingkan posisi akhir 2025. Di tengah penyusutan tersebut, konsolidasi manajer investasi (MI) mengubah peta persaingan industri, dengan 10 MI terbesar menguasai 76,4% dana kelolaan.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mengatakan, penurunan dana kelolaan industri tidak semata-mata disebabkan oleh aksi konsolidasi MI. Penggabungan perusahaan hanya menyatukan dana kelolaan sejumlah entitas, sementara tekanan pasar dan pencairan investasi turut memengaruhi nilai aset industri.

“Jadi menurut kami penurunan dana kelolaan lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi redemption dan penurunan nilai aset, bukan karena proses konsolidasi MI,” ujar Ekky kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Baca Juga: Hasil RUPSLB XLSMART (EXCL) Tunjuk Thomas Hundt Jadi Komisaris, Gantikan Vivek Sood

Di sisi lain, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan nilai aktiva bersih (NAB) reksadana per September 2026 mencapai Rp 637,07 triliun, turun 5,66% secara year to date (YtD).

Pada September, industri juga mencatat net redemption atau pencairan bersih sebesar Rp 10,43 triliun. Secara kumulatif, net redemption sejak awal tahun mencapai sekitar Rp 30,17 triliun.

Menurut Ekky, kenaikan imbal hasil atau yield obligasi dan koreksi pasar saham membuat investor lebih berhati-hati dalam berinvestasi. Sebagian investor juga mengalihkan dana ke instrumen lain.

Sementara itu, konsolidasi empat MI milik negara yang efektif pada 1 Oktober 2026 melahirkan Danareksa Investment Management Indonesia dengan dana kelolaan gabungan Rp 121,59 triliun per September 2026. Nilai tersebut setara 18,1% dari total dana kelolaan industri versi Infovesta, menjadikannya MI terbesar di Indonesia.

Direktur Infovesta Wawan Hendrayana menjelaskan, sebelum konsolidasi, tidak ada satu pun MI yang menguasai lebih dari 10,3% pasar. Penggabungan Mandiri Manajemen Investasi, BNI Asset Management, BRI Manajemen Investasi, dan PNM Investment Management mengubah struktur persaingan secara signifikan.

“Sepuluh MI terbesar menguasai 76,4% dana kelolaan, sedangkan 63 MI dengan dana kelolaan di bawah Rp 10 triliun hanya memegang 14,6%,” tutur Wawan.

Baca Juga: SBR015 Baru Terserap 34%, Ekonom: Ini Masalah Likuiditas, Bukan Kupon

Namun, besarnya dana kelolaan tidak selalu diikuti pertumbuhan. Data Infovesta menunjukkan, dana kelolaan gabungan empat MI milik negara tersebut turun Rp 27,09 triliun dibandingkan Desember 2025 menjadi Rp 121,59 triliun per September 2026.

Sebaliknya, Batavia Prosperindo Aset Manajemen mencatat kenaikan dana kelolaan Rp 9,15 triliun menjadi Rp 47,43 triliun. Manulife Aset Manajemen Indonesia juga tumbuh Rp 5,51 triliun menjadi Rp 69,09 triliun.

Ekky bilang, dominasi MI besar berpotensi memperketat persaingan bagi perusahaan pengelola investasi berskala menengah dan kecil. Kendati demikian, MI yang lebih kecil masih memiliki peluang selama mampu menawarkan produk dan layanan yang berbeda.

“MI kecil dan menengah masih memiliki ruang selama mampu memiliki diferensiasi. Mereka mungkin akan lebih sulit bersaing hanya dengan produk konvensional yang sama, sehingga ke depan perlu lebih fokus pada niche market, produk tematik, syariah, strategi yang lebih aktif, ataupun memberikan kinerja dan layanan yang lebih konsisten,” pungkas Ekky.

Bagi investor ritel, Ekky mengingatkan bahwa perubahan nama MI maupun produk akibat merger tidak serta-merta menjadi alasan untuk mencairkan investasi. Investor perlu memeriksa apakah perubahan tersebut turut memengaruhi strategi, profil risiko, biaya, komposisi portofolio, dan tim pengelola.

“Kalau hanya terjadi perubahan nama sementara strategi dan underlying portfolio tetap sama, menurut kami tidak perlu melakukan keputusan terlalu cepat,” ujarnya.

Untuk prospek hingga akhir tahun, Ekky memperkirakan dana kelolaan industri reksadana berada di kisaran Rp 650 triliun hingga Rp 680 triliun, dengan skenario dasar atau base case sekitar Rp 665 triliun hingga Rp 670 triliun.

Peluang pemulihan terbuka apabila pasar obligasi mulai stabil, yield turun dari level tinggi, dan pasar saham mengalami pemulihan pada kuartal IV 2026. Namun, pertumbuhan dana kelolaan yang lebih kuat tetap membutuhkan arus dana masuk bersih atau net subscription secara konsisten.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.913 per Dolar AS pada Senin (12/10)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×