kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.594.000   2.000   0,08%
  • USD/IDR 17.941   23,00   0,13%
  • IDX 5.936   -157,61   -2,59%
  • KOMPAS100 766   -19,95   -2,54%
  • LQ45 591   -10,76   -1,79%
  • ISSI 206   -6,62   -3,11%
  • IDX30 330   -4,72   -1,41%
  • IDXHIDIV20 423   -4,31   -1,01%
  • IDX80 88   -2,12   -2,37%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,74%
  • IDXQ30 108   -1,04   -0,95%

SBR015 Baru Terserap 34%, Ekonom: Ini Masalah Likuiditas, Bukan Kupon


Senin, 12 Oktober 2026 / 15:38 WIB
SBR015 Baru Terserap 34%, Ekonom: Ini Masalah Likuiditas, Bukan Kupon
ILUSTRASI. Penawaran saving bond ritel (SBR) (Dok/DJPPR)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Laju penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri SBR015 yang masih minim pada pekan kedua penawaran. Analis memproyeksi, hal ini lebih dipengaruhi oleh persoalan waktu beli dan preferensi likuiditas investor, bukan akibat lemahnya daya tarik kupon.

Masa penawaran instrumen ini berlangsung dari 28 September 2026 hingga 22 Oktober 2026, di mana kupon SBR015 bersifat mengambang (disesuaikan setiap 3 bulan) dengan Tingkat Kupon Minimal (floating with floor) sebesar 6,75% p.a. untuk SBR015T2 dan 6,85% p.a. untuk SBR015T4.

Berdasarkan data dari mitra distribusi aplikasi Bibit, pemesanan SBR015-T2 terpantau telah menyentuh 34,1% dari kuota nasional, sementara seri SBR015-T4 baru terserap sekitar 12,4%.

Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.913 per Dolar AS pada Senin (12/10)

Kondisi serupa juga tercermin pada platform Bareksa, di mana SBR015T2 mencatat penjualan sebesar 34% berbanding 12% untuk SBR015T4.

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi menjelaskan bahwa ketimpangan serapan ini sangat sejalan dengan kecenderungan investor ritel yang lebih memilih tenor pendek akibat sifat instrumen yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

Ia menilai minimnya ruang selisih imbal hasil membuat opsi penempatan dana berjangka waktu lebih lama menjadi kurang diminati di tengah banyaknya instrumen alternatif lain.

"Selisih kupon T4 terhadap T2 hanya 10 basis poin, terlalu kecil untuk mengompensasi tambahan penguncian dana dua tahun bagi banyak investor," terang Syafruddin kepada Kontan, Senin (12/10/2026).

Lebih lanjut, Syafruddin meyakini bahwa atensi pasar terhadap obligasi ini sebenarnya tidak pudar, melainkan hanya tertunda.

Tingginya volatilitas pasar dan pergerakan yield SBN saat ini mendorong investor untuk bersikap wait and see terhadap kepastian arah suku bunga acuan serta rupiah.

Kendati demikian, sentimen ketidakpastian suku bunga yang masih tinggi ini justru dapat menjadi katalis penopang yang kuat bagi SBR015 menjelang penutupan masa penawaran karena karakteristik imbal hasilnya.

"Skema floating with floor membuat SBR015 menarik ketika investor menilai BI Rate berisiko bertahan atau kembali naik: kupon dapat menyesuaikan ke atas, sedangkan batas bawah 6,75% untuk T2 dan 6,85% untuk T4 tetap terjaga," ungkap Syafruddin.

Baca Juga: Serapan SBR015 Masih Lambat, Tenor 2 Tahun Tetap Jadi Primadona

Menilik proyeksi serapan akhirnya, peluang pemerintah untuk menyentuh target penerbitan sebesar Rp 20 triliun dinilai berada pada level menengah.

Target tersebut masih berpeluang besar untuk digapai dengan catatan membutuhkan akselerasi pembelian yang sangat tajam pada fase akhir penawaran.

Skenario optimistis ini dapat terealisasi apabila terjadi lonjakan pemesanan secara masif pada lima sampai tujuh hari terakhir, khususnya yang bersumber dari dorongan likuiditas investor ritel kakap yang tengah mengamankan dananya dari gejolak pasar saham domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×