kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.706   62,71   1,11%
  • KOMPAS100 737   9,52   1,31%
  • LQ45 558   5,20   0,94%
  • ISSI 199   2,08   1,06%
  • IDX30 316   2,13   0,68%
  • IDXHIDIV20 390   0,47   0,12%
  • IDX80 84   0,86   1,03%
  • IDXV30 106   -0,37   -0,35%
  • IDXQ30 102   0,44   0,43%

Dana Asing Rp 18 Triliun Cabut dari Pasar SUN di Bulan September


Senin, 03 Oktober 2022 / 18:28 WIB
ILUSTRASI. Tercatat outflow asing sebesar Rp 18,83 triliun di pasar SUN pada bulan September.


Reporter: Aris Nurjani | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tren keluarnya aliran dana asing dari pasar surat utang negara (SUN) atau surat berharga negara (SBN) masih terus berlanjut. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), pada 26 September 2022 total kepemilikan investor asing di SBN mencapai Rp 740,68 triliun.

Sementara jika dilihat akhir Agustus 2022, jumlah kepemilikan asing di SBN masih sebesar Rp 759,51 triliun. Artinya, sampai 26 September, tercatat outflow sebesar Rp 18,83 triliun. Porsi kepemilikan investor asing di SBN pun juga turun dari akhir Agustus 2022 sebesar 15,24% menjadi 14,65% per 26 September 2022.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mencermati, aksi jual terjadi di pasar obligasi dan saham disebabkan oleh salah satunya akibat kenaikan suku bunga. Bank Sentral AS Federal Reserve tengah agresif menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi. 

"Di antaranya terkait kenaikan suku bunga agresif di Amerika Serikat yang terjadi sejak awal tahun," ujar Rudiyanto kepada Kontan.co.id, Senin (3/10). 

Baca Juga: September Jadi Bulan Penuh Tekanan Bagi Reksadana

Akibatnya, terjadi kekhawatiran dimana yield mengalami kenaikan dan harga turun. Selain itu, selama inflasi AS masih tinggi, investor asing cenderung masih akan mengamankan aset sehingga terjadi net sell (penjualan bersih). 

Aksi jual ini menyebabkan harga obligasi semakin murah sehingga memberikan kesempatan bagi investor untuk masuk. Rudiyanto mengatakan, yang menjadi faktor daya tarik asing untuk berinvestasi di Indonesia adalah menunggu tingkat inflasi terkendali. 

Dia mengatakan, pasar obligasi negara masih akan positif jika kenaikan suku bunga The Fed yang mulai terkendali dan inflasi Indonesia tidak melebihi 7%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×