kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.740.000   15.000   0,55%
  • USD/IDR 17.708   -71,00   -0,40%
  • IDX 6.526   24,10   0,37%
  • KOMPAS100 849   6,96   0,83%
  • LQ45 645   5,86   0,92%
  • ISSI 228   -0,31   -0,14%
  • IDX30 360   3,72   1,04%
  • IDXHIDIV20 437   4,19   0,97%
  • IDX80 97   0,82   0,85%
  • IDXV30 121   0,51   0,43%
  • IDXQ30 114   1,21   1,07%

Dampak Target MBG Hanya Moderat, Intip Rekomendasi Saham Poultry


Minggu, 23 Agustus 2026 / 14:34 WIB
Dampak Target MBG Hanya Moderat, Intip Rekomendasi Saham Poultry
ILUSTRASI. PT Malindo Feedmill (DOK/malindofeedmill.com)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Revisi target penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) sempat memicu spekulasi terkait prospek permintaan sektor perunggasan (poultry) hingga akhir tahun 2026.

Kendati demikian, para analis menilai penyesuaian anggaran tersebut hanya berdampak moderat dan tidak merusak dasar investasi sektor poultry seiring masih kuatnya konsumsi domestik.

Pemerintah saat ini tengah meninjau kembali target penerima manfaat MBG untuk tahun 2026 menjadi sekitar 63 juta jiwa dari target awal 82,9 juta jiwa, dengan alokasi anggaran Rp 268 triliun.

Langkah ini dilakukan guna memastikan efisiensi dan ketepatan data penerima di tingkat nasional.

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo menilai penyesuaian angka tersebut lebih memengaruhi ekspektasi pasar dibandingkan dengan kondisi fundamental industri perunggasan secara mendasar.

Baca Juga: MBG Dorong Permintaan, Saham Sektor Poultry Masih Positif di Kuartal III-2026

Menurutnya, program MBG tetap memberi tambahan permintaan terhadap pasokan ayam ras, meskipun bukan satu-satunya pendorong utama.

"Penurunan target penerima MBG menjadi sekitar 63 juta lebih berdampak negatif terhadap ekspektasi demand daripada fundamental poultry secara keseluruhan," kata Azis kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).

Senada, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Gusta Aji mengungkapkan bahwa kebutuhan ayam dan telur untuk program MBG tetap bermakna bagi penyerapan pasar.

Prospek emiten poultry hingga akhir 2026 dinilai tetap positif, namun membutuhkan kecermatan investor dalam memilih saham.

"Dampaknya terhadap industri poultry secara keseluruhan relatif terbatas sehingga tidak mengubah investment thesis, karena kebutuhan ayam untuk MBG tetap signifikan dan konsumsi domestik menjadi penopang utama," ujar Nafan.

Nafan menambahkan bahwa penguatan harga livebird, efisiensi produksi day old chick (DOC), serta biaya pakan yang terkendali akan menjaga momentum pemulihan kinerja emiten.

Ketersediaan pasokan juga terus membaik di lapangan, terbukti dari harga livebird yang melonjak 25% month-on-month (MoM) pada Agustus 2026 mencapai Rp 25.100 per kg, serta harga DOC yang naik ke level Rp 5.300 per ekor pada Juli. 

Baca Juga: Emiten Poultry Cetak Kinerja Solid di Tengah Tekanan Rupiah dan Pakan

Risiko kelebihan pasokan (oversupply) ekstrem juga dinilai relatif minim hingga penutupan tahun.

Pasalnya, pengetatan kuota impor bibit ayam (Grand Parent Stock/GPS) hingga level 700 ribu ekor diperkirakan mampu mengompensasi potensi penurunan permintaan dari penyesuaian MBG. 

Dari sisi emiten, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) menjadi saham pilihan utama para analis berkat keunggulan model bisnis hulu-hilir (integrated model) serta posisinya sebagai produsen dua besar live bird dan DOC nasional.

Ketahanan margin JPFA di kisaran 9%–11% juga tetap kokoh meskipun berada di tengah isu sentralisasi impor bahan baku pakan soybean meal (SBM).

Sementara itu, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) menawarkan daya tarik berupa skala usaha yang besar dan fundamental yang solid.

CPIN mencatatkan lonjakan laba bersih semester I-2026 sebesar 95% YoY menjadi Rp 3,7 triliun, didorong oleh kinerja segmen pakan ternak (feed) yang kokoh.

Adapun PT Malindo Feedmill Indonesia Tbk (MAIN) dipandang sebagai instrumen pilihan taktis (tactical play) mengingat sensitivitasnya yang tinggi terhadap siklus harga unggas.  

Mempertimbangkan peta fundamental tersebut, Azis merekomendasikan buy untuk saham JPFA dengan target harga Rp 3.140 per saham.

Sementara itu, Nafan memberikan rekomendasi wait and see untuk saham CPIN, JPFA, dan MAIN, dengan menempatkan JPFA sebagai top pick, CPIN sebagai pilihan berikutnya, serta rekomendasi selective buy untuk saham MAIN.

Baca Juga: MBG Kembali Berjalan, Harga DOC Naik 51,5% dan Saham Poultry Disarankan Overweight

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×