kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.008,41   -2,46   -0.24%
  • EMAS1.131.000 0,27%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dalam jangka pendek, harga minyak bisa ke level US$ 15 per barel


Senin, 30 Maret 2020 / 17:01 WIB
Dalam jangka pendek, harga minyak bisa ke level US$ 15 per barel
ILUSTRASI. ilustrasi harga minyak


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Herlina Kartika Dewi

Asal tahu saja, Arab Saudi sudah menggunakan teknik yang sama di 2014 untuk menjaga kestabilan produksinya, mereka berpandangan bahwa harga minyak yang rendah menawarkan lebih banyak manfaat jangka panjang daripada melepaskan pangsa pasar dalam upaya memaksa Rusia untuk patuh. 

"Lagi pula, Arab Saudi memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, karena itu satu-satunya negara yang dapat menahan harga minyak rendah untuk periode waktu yang lebih lama daripada yang lain tanpa terganggu ekonominya," jelasnya. 

Di sisi lain, sikap Arab Saudi telah menyakiti anggota OPEC lainnya seperti Nigeria dan Aljazair, sehingga mengalami kerugian lebih dari setengah miliar dolar per hari karena kehilangan pendapatan. Bahkan, Amerika Serikat (AS) juga terpengaruh secara tidak langsung.

Oleh karena itu, setelah kegagalan koordinasi, perang harga masih panjang, karena Rusia berencana untuk meningkatkan produksi mulai 1 April, dan sedang mempertimbangkan untuk meningkatkannya sebesar 40.000 barel per hari (bpd) hingga 50.000 bpd dalam sebulan. Mereka juga diharapkan akan meningkatkan output dengan 200-300Mbbls/d dalam waktu dekat. 

Di sisi lain, Arab Saudi yang memiliki lebih banyak ruang untuk meningkatkan output sedang bersiap untuk meningkatkan pasokan hingga 12 juta bpd-13 juta bpd atau di atas kapasitas produksi berkelanjutan. 

Baca Juga: Harga minyak tertekan corona, kinerja hulu migas diklaim masih terjaga

Arab Saudi juga menawarkan diskon signifikan untuk minyak mentah terutama di daratan Eropa pada April, sekaligus menegaskan tujuannya untuk menekan tidak hanya Rusia, tetapi juga Kanada dan AS dari pasar inti.

"Dengan strategi agresif ini, Saudi bertujuan mempertahankan atau bahkan meningkatkan pangsa pasar kerajaan," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Arab Saudi berkontribusi sekitar 25% total cadangan minyak dunia, sekitar 70%  dari kapasitas produksi global, dan sebagai pengekspor minyak mentah terbesar di dunia dengan selisih yang lebar. Hal ini berarti, tidak ada yang benar-benar dapat membawa anggota OPEC kembali ke meja perundingan.

Namun, pertemuan OPEC yang dijadwalkan berikutnya pada Juni masih berlangsung, meskipun mungkin sudah terlambat karena surplus telah terisi untuk kuartal II-2020. Kekhawatiran akan permintaan tetap menjadi sebab utama, karena negara-negara terus melakukan lockdown karena Covid-19 dan menetapkan batasan perjalanan yang sangat ketat. 

Harga minyak telah turun lebih dari 70% sejak Oktober 2019, dimana guncangan harga minyak juga meningkatkan risiko kredit di pasar keuangan. "Pandemi ini sangat membebani harga minyak, yang bisa mengarah pada kontraksi permintaan besar-besaran pada basis tahunan, lebih dari 10 juta bpd," jelasnya.

Selain itu, permintaan bahan bakar global diprediksi bakal turun sebanyak 15% hingga 20% pada kuartal kedua sebagai dampak dari pandemi virus corona. 

Sutopo menyimpulkan bahwa global tengah menghadapi satu tahun dengan banyak ketidakpastian, dengan risiko resesi yang tinggi di seluruh dunia. 

"Kondisi risk-off, bersamaan dengan penurunan tajam, terkait virus dalam permintaan minyak dan prospek untuk meningkatkan produksi dari Arab Saudi dan Rusia, telah menekan harga minyak turun ke level terendah sejak 18 tahun dan diperkirakan akan mempertahankan tekanan pada minyak," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×