kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.737.000   34.000   1,26%
  • USD/IDR 16.973   0,00   0,00%
  • IDX 9.135   0,83   0,01%
  • KOMPAS100 1.255   -8,26   -0,65%
  • LQ45 884   -8,74   -0,98%
  • ISSI 334   -0,41   -0,12%
  • IDX30 454   -1,06   -0,23%
  • IDXHIDIV20 538   0,43   0,08%
  • IDX80 140   -1,06   -0,76%
  • IDXV30 149   -0,12   -0,08%
  • IDXQ30 146   -0,09   -0,06%

Daftar Saham Batubara Berpotensi Cuan: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis!


Rabu, 21 Januari 2026 / 06:09 WIB
Daftar Saham Batubara Berpotensi Cuan: Cek Rekomendasi Saham Pilihan Analis!
ILUSTRASI. para analis memberikan rekomendasi saham pilihan untuk emiten batubara di tengah harga yang menguat


Reporter: Dimas Andi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham emiten produsen batubara terlihat ngebut di awal tahun 2026, berkat kenaikan harga. Hal ini memicu harapan akan perbaikan sektor industri batubara sepanjang 2026 berjalan.

Sejumlah saham produsen batubara tampak mengalami kenaikan harga dalam beberapa waktu terakhir. Contohnya adalah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang mengalami kenaikan harga saham 6,93% year to date (ytd) ke level Rp 2.470 per saham hingga Selasa (20/1/2026).

Selain itu, ada saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) yang naik 13,11% ytd ke level Rp 414 per saham, kemudian saham PT Indika Energy Tbk (INDY) yang melesat 63,84% ytd ke level Rp 3.670 per saham, hingga saham PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang menguat 2,40% ytd ke level Rp 22.400 per saham.

Saham-saham emiten Grup Alamtri juga menguat, seperti PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang melonjak 23,76% ytd ke level Rp 2.240 per saham, lalu saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) yang terbang 32,05% ytd ke level Rp 2.060 per saham, dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) yang naik 7,53% ytd ke level Rp 7.500 per saham.

Baca Juga: Laba Bersih Avia Avian (AVIA) Diproyeksi Capai Rp 1,79 Triliun pada Tahun 2026

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, tren kenaikan saham batubara sebagian dipicu oleh ekspektasi pasar bahwa kebijakan pemangkasan produksi batubara nasional pada 2026 akan membantu menahan tekanan harga dan mengurangi risiko kelebihan pasokan (oversupply) global.

"Sentimen ini memicu optimisme investor meski permintaan ekspor tetap lemah, sehingga saham mencatatkan reli year to date," ujar dia, Selasa (20/1/2026).

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menambahkan, sentimen eksternal juga ikut menopang pergerakan saham batubara.

Di antaranya adalah stabilisasi harga energi dunia, meningkatnya kebutuhan energi dari negara-negara Asia seperti China dan India, dan pandangan bahwa harga batubara sudah berada di area bawah siklus.

Kondisi ini mendorong investor untuk melakukan akumulasi selektif pada saham batubara yang sebelumnya sempat tertekan cukup dalam. "Hal ini mendorong kenaikan harga saham meski pemulihan harga batubara global belum sepenuhnya terjadi," tutur dia, Selasa (20/1/2026).

Terlepas dari itu, Abida memperkirakan prospek kinerja emiten batubara pada 2026 relatif bervariasi. Meski penurunan produksi batubara nasional diharapkan dapat menstabilkan harga, pasar global masih dilanda oversupply seiring permintaan dari China dan India yang belum sepenuhnya pulih sehingga risiko penurunan ekspor masih bisa terjadi.

Baca Juga: PGEO dan Green Power Group (LABA) Gelar RUPSLB Hari Ini, Simak Rekomendasi Sahamnya

Di sisi lain, permintaan batubara di pasar domestik terutama dari sektor kelistrikan dan industri strategis tetap menjadi penopang bagi emiten, namun belum cukup menggantikan volume ekspor yang menyusut.

Dari situ, emiten batubara yang mampu mengoptimalkan efisiensi produksi, memiliki cadangan batubara berkualitas kompetitif, serta kemampuan diversifikasi pasar domestik dan kontrak bayar tetap (off-take) kemungkinan besar akan lebih unggul kinerjanya pada 2026.

"Selain itu, perusahaan dengan struktur biaya rendah dan eksposur domestic market obligation (DMO) yang efisien bisa bertahan lebih baik di tengah tekanan harga global," jelas dia.

Sementara menurut Hendra, emiten batubara yang mulai melakukan transformasi bisnis ke sektor energi terbarukan, hilirisasi, atau mineral strategis dinilai memiliki ketahanan jangka menengah yang lebih kuat.

Dalam konteks ini, emiten seperti ADRO dan AADI diuntungkan oleh diversifikasi portofolio energi, sedangkan INDY memperoleh sentimen positif dari transformasi ke sektor nonbatubara.

Adapun ITMG tetap menarik dari sisi kekuatan arus kas dan potensi dividen, meski karakter pergerakan sahamnya cenderung lebih defensif.

Hendra pun merekomendasikan speculative buy saham ADRO dan AADI dengan target harga Rp 2.400 per saham dan Rp 8.000 per saham.

Saham INDY dan ITMG turut direkomendasikan trading buy dengan target harga masing-masing di level Rp 4.000 per saham dan Rp 23.000 per saham.

 

"Sektor batubara masih memiliki daya tarik sepanjang tahun ini, khususnya untuk strategi trading dan spekulatif meski tidak lagi berada pada fase supercycle," ungkap dia.

Di lain pihak, Abida menyebut saham batubara tetap menarik secara spekulatif jika kebijakan produksi memang dapat mengerek harga komoditas, namun risiko permintaan global yang stagnan menuntut investor harus lebih selektif.

Saham-saham seperti ADRO, AADI, ITMG, dan PTBA dapat dipertimbangkan oleh investor dengan target harga masing-masing di level Rp 2.630 per saham, Rp 9.850 per saham, Rp 27.300 per saham, dan Rp 3.100 per saham.

Selanjutnya: Tablet Murah dengan SIM Card: Bebas Internet Tanpa WiFi, Performa Mantap

Menarik Dibaca: Tablet Murah dengan SIM Card: Bebas Internet Tanpa WiFi, Performa Mantap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×