kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.597.000   -16.000   -0,61%
  • USD/IDR 17.998   74,00   0,41%
  • IDX 6.148   -94,03   -1,51%
  • KOMPAS100 799   -14,31   -1,76%
  • LQ45 612   -9,30   -1,50%
  • ISSI 212   -3,34   -1,55%
  • IDX30 339   -4,87   -1,42%
  • IDXHIDIV20 427   -2,25   -0,52%
  • IDX80 91   -1,67   -1,79%
  • IDXV30 116   -0,86   -0,73%
  • IDXQ30 110   -0,92   -0,84%

Buyback Saham Rp 500 Miliar Jadi Katalis Positif, Cek Rekomendasi Saham KLBF


Senin, 28 September 2026 / 14:51 WIB
Buyback Saham Rp 500 Miliar Jadi Katalis Positif, Cek Rekomendasi Saham KLBF
ILUSTRASI. PT Kalbe Farma Tbk KLBF (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Aksi pembelian kembali saham atau buyback menjadi salah satu katalis positif bagi saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) di tengah tekanan margin yang masih membayangi kinerja perseroan sepanjang 2026. 

KLBF menyiapkan dana internal hingga Rp 500 miliar untuk menjalankan buyback pada 17 September hingga 17 Desember 2026. Aksi korporasi ini dinilai dapat menopang laba per saham (earnings per share/EPS) karena jumlah saham beredar akan berkurang.

Analis UBS Sekuritas Indonesia Permada Darmono menilai buyback tersebut memberikan sinyal terhadap valuasi saham KLBF.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham dan Prospek IHSG Usai BI Tahan Suku Bunga di 5,75%

Perseroan memang diperkirakan kehilangan pendapatan bunga sekitar Rp 8,4 miliar dari penggunaan dana internal, tetapi pengurangan jumlah saham beredar diperkirakan dapat meningkatkan EPS sekitar 1,1% berdasarkan kinerja 2025.

“Buyback tersebut memberikan sinyal mengenai valuasi saham yang menarik,” tulis Permada dalam risetnya, 16 September 2026.

Selain buyback, sentimen positif KLBF datang dari prospek pertumbuhan volume penjualan, pemulihan Consumer Health, tambahan principal pada bisnis distribusi, serta inovasi produk.

Analis melihat tekanan margin pada 2026 lebih bersifat sementara, dengan pemulihan profitabilitas diperkirakan mulai terlihat pada 2027.

Pada semester I-2026, pendapatan KLBF tumbuh 14,05% secara tahunan menjadi Rp 19,48 triliun. Pertumbuhan terjadi di seluruh segmen bisnis, dengan Distribusi dan Logistik menjadi kontributor terbesar setelah pendapatannya meningkat 26,62% menjadi Rp 7,20 triliun.

 

Namun, kenaikan pendapatan belum sepenuhnya mengangkat laba. Beban pokok penjualan tumbuh 20,97% menjadi Rp 12,16 triliun sehingga laba kotor hanya meningkat 4,15% menjadi Rp 7,32 triliun.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Consumer Staples ICBP, MYOR, CMRY dan SIDO untuk Senin (28/9)

Alhasil, margin laba kotor turun dari 41,14% menjadi 37,56%, sedangkan laba bersih turun 2,74% menjadi Rp 1,97 triliun.

Tekanan tersebut terutama berasal dari kenaikan biaya bahan baku impor di tengah pelemahan rupiah. Sekitar 50% biaya produksi KLBF berkaitan dengan dolar AS sehingga ruang perbaikan margin pada paruh kedua 2026 masih terbatas.

Meski demikian, sejumlah analis memperkirakan 2026 menjadi titik terendah margin KLBF sebelum profitabilitas berangsur pulih pada 2027. Perbaikan diperkirakan ditopang kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dan perbaikan product mix.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Amand menilai pertumbuhan pendapatan KLBF masih solid dan berbasis volume.

Sementara itu, Sinarmas Sekuritas memperkirakan pemulihan Consumer Health setelah proses rejuvenasi merek, tambahan principal baru di bisnis distribusi, serta inovasi produk seperti Zegavit Gummy menjadi katalis bagi pertumbuhan.

Proyeksi kinerja juga masih menunjukkan ruang pertumbuhan. UBS memperkirakan pendapatan KLBF mencapai Rp 40,42 triliun pada 2026, naik dari Rp 35,33 triliun pada 2025.

Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Bayan Resources (BYAN) Usai Raih Persetujuan RKAB

Namun, laba bersih diproyeksikan turun menjadi Rp 3,56 triliun akibat penyusutan margin EBIT menjadi 11,1% dari 13,2%.

Mulai 2027, UBS memperkirakan laba bersih kembali meningkat menjadi Rp 3,75 triliun dan mencapai Rp 3,97 triliun pada 2028. EPS juga diproyeksikan naik dari Rp 78 pada 2026 menjadi Rp 82 pada 2027 dan Rp 87 pada 2028.

Rekomendasi saham KLBF

Dari sisi rekomendasi, Abida mempertahankan pandangan Buy dengan target harga Rp 1.000 per saham. Vita Lestari dari Sinarmas Sekuritas juga memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 900.

Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 1.500 per saham. Sementara itu, UBS Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga 12 bulan Rp 1.100 per saham.

Baca Juga: IHSG Berpotensi Volatil Menanti Hasil RDG BI, Cek Rekomendasi Saham Berikut

Dengan demikian, katalis jangka pendek KLBF berasal dari program buyback dan pertumbuhan volume penjualan, sedangkan katalis fundamental berikutnya adalah pemulihan margin yang diperkirakan mulai lebih terlihat pada 2027.

Risiko utama tetap berasal dari pelemahan rupiah, kenaikan biaya bahan baku dan operasional, persaingan, inflasi, serta potensi pelemahan daya beli.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×