Reporter: Vivit Dewi | Editor: Noverius Laoli
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Amand menilai pertumbuhan pendapatan KLBF masih solid dan berbasis volume.
Sementara itu, Sinarmas Sekuritas memperkirakan pemulihan Consumer Health setelah proses rejuvenasi merek, tambahan principal baru di bisnis distribusi, serta inovasi produk seperti Zegavit Gummy menjadi katalis bagi pertumbuhan.
Proyeksi kinerja juga masih menunjukkan ruang pertumbuhan. UBS memperkirakan pendapatan KLBF mencapai Rp 40,42 triliun pada 2026, naik dari Rp 35,33 triliun pada 2025.
Baca Juga: Cek Rekomendasi Saham Bayan Resources (BYAN) Usai Raih Persetujuan RKAB
Namun, laba bersih diproyeksikan turun menjadi Rp 3,56 triliun akibat penyusutan margin EBIT menjadi 11,1% dari 13,2%.
Mulai 2027, UBS memperkirakan laba bersih kembali meningkat menjadi Rp 3,75 triliun dan mencapai Rp 3,97 triliun pada 2028. EPS juga diproyeksikan naik dari Rp 78 pada 2026 menjadi Rp 82 pada 2027 dan Rp 87 pada 2028.
Rekomendasi saham KLBF
Dari sisi rekomendasi, Abida mempertahankan pandangan Buy dengan target harga Rp 1.000 per saham. Vita Lestari dari Sinarmas Sekuritas juga memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 900.
Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp 1.500 per saham. Sementara itu, UBS Sekuritas Indonesia mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga 12 bulan Rp 1.100 per saham.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Volatil Menanti Hasil RDG BI, Cek Rekomendasi Saham Berikut
Dengan demikian, katalis jangka pendek KLBF berasal dari program buyback dan pertumbuhan volume penjualan, sedangkan katalis fundamental berikutnya adalah pemulihan margin yang diperkirakan mulai lebih terlihat pada 2027.
Risiko utama tetap berasal dari pelemahan rupiah, kenaikan biaya bahan baku dan operasional, persaingan, inflasi, serta potensi pelemahan daya beli.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














