kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.602.000   -2.000   -0,08%
  • USD/IDR 17.681   54,00   0,31%
  • IDX 6.535   -6,68   -0,10%
  • KOMPAS100 866   8,07   0,94%
  • LQ45 659   9,32   1,43%
  • ISSI 225   -2,18   -0,96%
  • IDX30 366   5,04   1,40%
  • IDXHIDIV20 458   8,21   1,83%
  • IDX80 99   1,17   1,20%
  • IDXV30 126   0,85   0,68%
  • IDXQ30 118   2,25   1,94%

Bursa Saham Global Tertekan, Harga Minyak Tembus US$108 dan Yield AS Capai 5%


Senin, 14 September 2026 / 22:46 WIB
Bursa Saham Global Tertekan, Harga Minyak Tembus US$108 dan Yield AS Capai 5%
ILUSTRASI. Para pedagang opsi berjangka bekerja di lantai perdagangan NYSE American (AMEX) milik New York Stock (REUTERS/Brendan McDermid)


Sumber: Reuters | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham global tertekan pada perdagangan Senin (14/9/2026) setelah lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah meningkatkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral.

Indeks MSCI yang mengukur saham global turun 0,89%. Di Asia Pasifik di luar Jepang, indeks saham melemah 0,73%, sementara indeks STOXX 600 Eropa turun 0,34%.

Tekanan juga terjadi di Wall Street. Dow Jones Industrial Average turun 0,48%, S&P 500 melemah 0,78%, sedangkan Nasdaq Composite terkoreksi 1,09%. Indeks saham semikonduktor Philadelphia bahkan anjlok 5%.

Baca Juga: Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Tembus US$100 dan Picu Inflasi

Kenaikan harga minyak menjadi salah satu pemicu utama aksi jual. Harga minyak Brent melonjak sekitar 4% ke US$108,83 per barel, setelah pekan sebelumnya sudah naik hampir 9%.

Lonjakan harga minyak terjadi setelah pipa East-West Arab Saudi untuk sementara dihentikan menyusul serangan drone.

Jalur tersebut merupakan salah satu infrastruktur penting yang memungkinkan Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak melalui Laut Merah tanpa melewati Selat Hormuz.

Gangguan pasokan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global.

Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya bahan bakar, transportasi dan kebutuhan energi berpotensi kembali meningkat sehingga mempersempit ruang bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Baca Juga: Bursa Saham Global Melemah, Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketidakpastian Perang

"Jika gangguan di Selat Hormuz berlanjut, kita harus menambahkan beberapa kenaikan suku bunga bank sentral, seperti yang saat ini mulai diperkirakan pasar," kata Chief Economist Lombard Odier Samy Chaar.

Yield obligasi AS tembus 5%

Tekanan terhadap aset berisiko semakin kuat karena imbal hasil obligasi pemerintah juga meningkat. Yield US Treasury 10 tahun sempat menyentuh 5%, level tertinggi sejak 2023.

Di Eropa, yield obligasi pemerintah Jerman bertenor 10 tahun naik di atas 3,54%, menjadi level tertinggi sejak 2009.

Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya ekspektasi pasar bahwa bank sentral akan mempertahankan atau kembali memperketat kebijakan moneter untuk mengantisipasi tekanan inflasi.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 90% bagi The Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan Rabu. Jika terealisasi, langkah tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed sejak pertengahan 2023.

Baca Juga: Bursa Saham Global Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Hentikan Serangan

Sementara itu, pasar memperkirakan sekitar 76% kemungkinan Bank of Japan menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 1,25% pada pertemuan Jumat.

Di tengah kondisi tersebut, dolar AS menguat terhadap sejumlah mata uang utama. Dolar naik 0,79% menjadi 154,76 yen dan menguat 0,2% terhadap franc Swiss. Euro melemah 0,52% menjadi US$1,1538.

Penguatan dolar turut menekan harga emas. Harga emas spot turun 1,78% menjadi US$4.270,29 per ons troi.

Saham teknologi ikut tertekan

Selain faktor minyak dan suku bunga, saham teknologi global juga mendapat tekanan setelah muncul kekhawatiran mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI).

Saham-saham terkait AI melemah setelah pimpinan OpenAI dan Anthropic menyerukan perlunya perlambatan pengembangan AI untuk mengelola risiko teknologi tersebut. Kekhawatiran serupa turut disuarakan Elon Musk melalui perusahaan xAI.

Baca Juga: Harga Minyak Tembus US$ 100 per Barel, Perusahaan Migas Pilih Genjot Produksi

Tekanan pada saham teknologi membuat indeks saham semikonduktor Philadelphia merosot 5% dan menjadi salah satu sektor dengan penurunan terbesar di pasar saham AS.

Kombinasi harga minyak yang tinggi, yield obligasi yang meningkat dan tekanan pada saham teknologi membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko menjelang keputusan sejumlah bank sentral utama pekan ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×