kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.814   -14,00   -0,08%
  • IDX 8.116   84,10   1,05%
  • KOMPAS100 1.145   13,24   1,17%
  • LQ45 827   6,22   0,76%
  • ISSI 288   4,53   1,60%
  • IDX30 430   3,49   0,82%
  • IDXHIDIV20 516   2,72   0,53%
  • IDX80 128   1,24   0,98%
  • IDXV30 140   1,02   0,73%
  • IDXQ30 140   0,73   0,53%

Bursa AS dibuka turun di tengah devaluasi yuan


Selasa, 11 Agustus 2015 / 21:46 WIB
Bursa AS dibuka turun di tengah devaluasi yuan


Sumber: Bloomberg | Editor: Yudho Winarto

NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat merosot di tengah kebijakan China mendevaluasi mata uang Yen sehingga memicu kekhawatiran di pasar global bahwa ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut sedang menuju perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Indeks Standard & Poor 500 turun 0,8% menjadi 2.087,29 pada 09:32 pagi waktu New York, setelah naik 1,3% pada hari Senin (10/8). Dow Jones Industrial Average turun 176,82 poin, atau 1%, ke 17,438.35 dan Indeks Nasdaq Composite tergelincir 0,7%

China mendevaluasi yuan sebesar 1,9%, atau yang tertajam dalam dua dekade terakhir, setelah data bulan ini menunjukkan penurunan pada sektor ekspor, lebih lemah dari perkiraan manufaktur dan perlambatan pertumbuhan kredit.

Pergerakan yang mengejutkan pada pasar global, memicu aksi jual dalam mata uang emerging-market, komoditas dan saham mewah dengan eksposur ke China.

Perusahaan yang sangat bergantung pada ekspor ke China, termasuk mobil dan barang-barang mewah. Saham General Motors Co dan Tiffany & Co kehilangan lebih dari 2,3%. Apple Inc tenggelam 2,5%.

Saham Freeport-McMoRan Inc Dow Chemical Co turun setidaknya 2,8% di tengah kekhawatiran tentang pertumbuhan China. Sementara, saham Google Inc naik 5,3% setelah mengatakan akan mengatur ulang menjadi sebuah perusahaan induk disebut Alphabet Inc.

Director Equities JMP Securities Tom Wright menuturkan kekuatan pendorong makroekonomi saat ini berorientasi pada China. "Kami menghabiskan banyak waktu terobsesi Yunani atau Puerto Rico, tapi China adalah ekonomi jauh lebih besar dan masalah yang lebih besar bagi perekonomian global dan mendevaluasi mata uangnya," jelasnya.

Di sisi lain, investor juga tengah mengukur data perekonomian AS terutama untuk menyangkut rencana Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga yang pertama sejak 2006.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×