kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.625.000   -5.000   -0,19%
  • USD/IDR 17.963   50,00   0,28%
  • IDX 5.702   58,64   1,04%
  • KOMPAS100 737   8,81   1,21%
  • LQ45 558   5,02   0,91%
  • ISSI 199   2,06   1,05%
  • IDX30 316   2,20   0,70%
  • IDXHIDIV20 390   0,42   0,11%
  • IDX80 84   0,86   1,04%
  • IDXV30 106   -0,46   -0,43%
  • IDXQ30 102   0,39   0,38%

Bunga turun, indeks obligasi hanya kuat sesaat?


Kamis, 24 Agustus 2017 / 18:58 WIB


Reporter: RR Putri Werdiningsih | Editor: Dessy Rosalina

KONTAN.CO.ID - Langkah Bank Indonesia (BI) untuk memangkas suku bunga acuan 25 basis poin (bsp) ke level 4,5% diperkirakan tidak cukup kuat untuk menjaga penguatan indeks obligasi komposit atau Indonesia Composite Bond Index (ICBI).

Analis melihat keputusan bank sentral tersebut masih memerlukan implementasi dari pihak perbankan sebelum bisa dirasakan pengaruhnya. I Made Adi Saputra, Analis Fixed Income MNC Sekurities mengatakan keputusan BI tersebut hanya akan menjadi pengaruh sesaat jika tidak diikuti oleh penyesuaian suku bunga oleh pihak perbankan.

Tanpa hal tersebut akan sulit untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Selama ini pelaku pasar lebih banyak yang menahan belanja karena tidak yakin akan kondisi ekonomi Indonesia ke depannya.

“Kalau gak ada yang berani ekspansi tetap saja sedikit yang masuk ke obligasi,” ujarnya kepada KONTAN di Jakarta, Kamis (24/8).

Meski begitu ia memperkirakan pengaruh penurunan BI rate terhadap sektor obligasi baru bisa dirasakan sekitar tiga bulan lagi. Penyesuaian suku bunga acuan oleh pihak perbankan dinilai masih membutuhkan waktu. Hasilnya baru akan tercermin dari kondisi pertumbuhan ekonomi pada akhir kuartal III.

Made sendiri optimis ke depannya prospek ICBI masih cukup bagus. Kupon Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun berpotensi turun ke level 6,75% dari saat ini 6,86%. Penurunan kupon tersebut akan mendorong penguatan harga di pasar sekunder sehingga bisa menopang penguatan indeks obligasi.

“Ditengah kebijakan The Fed yang ragu untuk menaikkan suku bunga acuan, modal asing banyak masuk ke negara berkembang,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×