kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Bukit Asam mencetak kenaikan laba bersih 50%


Selasa, 24 Juli 2018 / 07:00 WIB

Bukit Asam mencetak kenaikan laba bersih 50%


Berita Terkait

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih moncer. Ini berkat tren kenaikan harga batubara serta upaya efisiensi yang dilakukan emiten ini.

Di semester I-2018, PTBA mencetak pendapatan Rp 10,53 triliun, naik 17% dibanding pendapatan periode yang sama tahun sebelumnya, Rp 8,97 triliun. Volume penjualan naik 8% jadi 12,22 juta ton. "Rata-rata harga jual naik 9% menjadi Rp 838.288 per ton," ujar Sekretaris Perusahaan PTBA Suherman, Senin (23/7).


PTBA juga berhasil menekan kenaikan beban pokok pendapatan hingga tidak lebih dari 9%, jadi Rp 6,1 triliun. Tapi, volume produksinya melompat 19% dari sebelumnya sebesar 11,36 juta ton di semester I-2017. Hasilnya, PTBA mampu mencetak kenaikan laba bersih sekitar 50% menjadi Rp 2,58 triliun.

Namun, manajemen PTBA tak menampik, penetapan harga batubara domestic market obligation (DMO) sebesar US$ 70 per ton yang diberlakukan Maret lalu memberikan efek. Tapi, manajemen tak khawatir.

Pembangkit listrik

PTBA telah menyiapkan strategi guna mengompensasi tekanan itu. Caranya, transfer kuota. PTBA bisa menjual batubara sisa kelebihan DMO kepada perusahaan batubara yang belum mampu memenuhi kuota DMO 25% dari volume produksi. Penjualannya menggunakan harga pasar.

Asal tahu saja, sekitar 50% produksi batubara PTBA selama ini sudah difokuskan ke pasar domestik. Tahun ini, PTBA menargetkan volume penjualan batu bara sebesar 25,88 juta ton. Komposisinya, 53% atau sebesar 13,27 juta ton untuk pasar domestik. Sisanya, 47% atau 12,15 juta ton untuk pasar ekspor.

Untuk merealisasikan target produksi dan operasional tersebut,  PTBA menganggarkan belanja modal sebesar Rp 6,55 triliun pada 2018.

PTBA juga masih meneruskan rencana ekspansi segmen pembangkit listrik. Salah satunya, proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) mulut tambang Banko Tengah Sumsel 8 di Muara Enim, Sumatra Selatan.

Pembangunannya dilakukan dengan skema konsorsium bersama China Huadian Hongkong Company Ltd selaku pemegang 55% saham konsorsium. Nilai investasinya US$ 1,68 miliar

Konstruksi ditargetkan dapat dimulai pada awal kuartal III-2018. Masa konstruksi memakan 42 bulan untuk unit 1, dan 45 bulan untuk unit II.

Senior Analis Paramitra Alfa Sekuritas William Siregar menyebut, kinerja PTBA terimbas tren tingginya harga batubara. Masalahnya, tren harga belum tentu bertahan hingga akhir tahun.

Terlebih, harga batubara sekarang mulai masuk tren penurunan secara bertahap. Jadi, rasanya kurang bijak jika masuk ke saham PTBA sekarang.

Ia menyarankan investor wait and see sambil menunggu harga batubara kembali ke level US$ 80 per ton. "Kecuali, masuk jika hanya untuk trading jangka pendek," jelas William.   

 


Reporter: Intan Nirmala Sari, Willem Kurniawan
Editor: Wahyu Rahmawati

Video Pilihan


Close [X]
×