Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek bisnis PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dinilai masih menjanjikan seiring ekspansi agresif di dua lini usaha utamanya, yakni energi terbarukan dan petrokimia.
Research Analyst Henan Sekuritas, Dennis Tay, menilai BRPT saat ini memiliki posisi strategis di sektor energi terbarukan melalui anak usahanya, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Ia mencatat hingga tahun buku 2024, BREN tercatat memiliki kapasitas terpasang energi terbarukan terbesar di Indonesia dengan total sekitar 965 megawatt (MW).
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra (ASII) Mencapai 38.074 Unit pada Februari 2026
Ke depan, grup Barito menargetkan peningkatan kapasitas menjadi sekitar 2,3 gigawatt (GW) pada 2032. Target tersebut terdiri dari sekitar 1,9 GW pembangkit panas bumi serta sekitar 0,4 GW pembangkit listrik tenaga angin.
"Kami menilai target ini cukup realistis, didukung oleh strategi ekspansi yang terdiversifikasi. Dalam jangka pendek, optimalisasi aset panas bumi yang ada diperkirakan dapat menambah sekitar 119 MW dalam tiga tahun ke depan," ujar Dennis dalam riset 19 Januari 2026.
Selain itu, BRPT juga mengembangkan proyek panas bumi skala besar di lokasi greenfield seperti Hamiding di Maluku Utara dan South Sekincau di Sumatra.
Tak berhenti di situ saja, BRPT juga memiliki bisnis petrokimia yang kuat melalui anak usahanya PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA).
TPIA saat ini merupakan produsen petrokimia terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi tahunan sekitar 4,2 juta ton pada 2024 atau setara sekitar 40% dari total kapasitas petrokimia nasional.
Ekspansi TPIA juga semakin agresif setelah pada semester I 2025 perusahaan bersama Glencore menyelesaikan akuisisi Shell Energy and Chemicals Park (SECP) di Singapura yang kini berganti nama menjadi Aster Chemicals and Energy (ACE).
Baca Juga: Harga Bitcoin Cs Fluktuatif, Analis Sarankan Investor Terapkan Strategi Ini!
Melalui akuisisi tersebut, kapasitas produksi tahunan grup meningkat signifikan menjadi sekitar 20 juta ton mulai tahun buku 2025.
Di samping itu, TPIA juga tengah membangun pabrik Chlor Alkali–Ethylene Dichloride (CA-EDC) di Cilegon yang ditargetkan rampung pada 2026. Setelah mulai beroperasi pada 2027, total kapasitas produksi petrokimia perusahaan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 21 juta ton per tahun.
Senada dengan Dennis, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi juga berpandangan entitas anak udaha BREN dan TPIA turut menyokong stabilitas dan arus kas jangka panjang bagi grup.
"BREN menyumbang stabilitas arus kas jangka panjang, sementara TPIA menjadi pendorong pertumbuhan melalui peningkatan kapasitas produksi. Kombinasi ini membuat portofolio BRPT relatif seimbang antara bisnis defensif di energi hijau dan ekspansi agresif di sektor petrokimia," ujar Wafi saat dihubungi Kontan, Rabu (11/3/2026).
Selain itu, kata Wafi terdapat sejumlah katalis yang berpotensi mendukung pergerakan saham BRPT ke depan.
Di antaranya potensi penurunan suku bunga global, pemulihan ekonomi China yang dapat mendorong permintaan petrokimia, serta percepatan transisi energi yang mendukung bisnis energi terbarukan.
Lebih lanjut Analis JP Morgan Sekuritas Indonesia Arnanto Januri dalam riset 30 Januari 2026 menyebut rencana divestasi saham TPIA oleh Siam Cement Group (SCG) masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Pada Juni 2025 SCG melalui entitasnya SCC TB mengumumkan rencana untuk melepas sekitar 10,6% saham dari total 30,6% kepemilikannya di TPIA. Merujuk pada paparan kinerja SCG kuartal IV 2025, proses divestasi tersebut masih berjalan sesuai rencana dan ditargetkan dapat terealisasi pada semester I 2026.
Baca Juga: Harga Bitcoin Cs Fluktuatif, Analis Sarankan Investor Terapkan Strategi Ini!
Ia memperkirakan nilai book value/BV dari porsi saham 10,6% tersebut berada di kisaran US$ 500 juta hingga US$ 550 juta. Angka tersebut mengimplikasikan valuasi sekitar US$ 5 miliar untuk keseluruhan perusahaan atau setara sekitar 1,3 kali price to book value (P/B).
"Valuasi tersebut dinilai jauh lebih rendah dibandingkan kapitalisasi pasar TPIA saat ini yang mencapai sekitar US$ 32 miliar atau sekitar 8 kali P/B," jelas Arnanto.
Dari sisi kinerja keuangan, pada sembilan bulan pertama 2025 BRPT meraih pendapatan sebesar US$ 5,56 miliar atau meningkat signifikan 232% year on year (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu yaitu US$ 1,68 miliar.
Pada saat yang sama, laba bersih perusahaan ini dicatat melonjak 2.055% yoy menjadi sebesar US$ 582 juta, dari sebelumnya US$ 27 juta.
Arnanto pun estimasi pendapatan BRPT pada tahun 2026 diperkirakan mencapai sekitar US$ 7,29 miliar, meningkat tipis sekitar 2% dibandingkan proyeksi tahun 2025 yang sebesar US$ 7,15 miliar.
Namun dari sisi profitabilitas, laba bersih yang disesuaikan (adjusted net income) BRPT diproyeksikan menjadi hanya sekitar US$ 226 juta pada 2026.
Dengan dengan begitu, Arnanto memberikan rekomendasi underweight untuk saham BRPT, dengan target harga Rp 870 per saham.
Kemudian Wafi dan Dennis memberikan rekomendasi kepada investor untuk buy saham BRPT, dengan target masing-masing Rp 2.300 dan Rp 4.100 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













